Kamis, 21 Mei 2015

XL Future Leaders: Persembahan XL untuk Indonesia

"Komitmen XL Future Leaders adalah mencetak future leaders, bukan future workers".

Kini sudah bukan rahasia bahwa pendidikan tak melulu soal kecerdasan intelektual. Keberhasilan pendidikan tak cukup diukur dengan angka. IPK tinggi bukan ukuran daya saing dalam menghadapi perkembangan jaman dan kemampuan beradaptasi pada perubahan. Diperlukan kompetensi soft skills disamping hard skills. Banyak mahasiswa yang kemampuan akademisnya tinggi, namun memiliki kekurangan dalam hal komunikasi, misalnya. Demikian pula banyak kasus mahasiswa yang brilian namun terkendala latar belakang finansial untuk membiayai pendidikannya. Di sisi lain, kalau berkaca pada kondisi di tanah air, masih banyak orang bermind-set "sekolah untuk bekerja". Dari sekian banyak perusahaan yang ada di Indonesia, posisi leader masih banyak ditempati oleh orang asing. Kita tentu menginginkan Indonesia dipimpin oleh bangsa kita sendiri. Well, aku pribadi punya memori kurang enak lho pernah bekerja dengan dominasi orang asing yang bersikap superior terhadap orang kita *maap, curcol.

Komitmen CSR XL di bidang pendidikan
Fenomena itu melatarbelakangi dirancangnya program XL Future Leaders besutan perusahaan provider PT. XL Axiata. Setiap tahun XL Future Leaders menyelenggarakan roadshow di berbagai kota. Setelah berjalan selama 3 tahun, kini program XL Future Leaders 4 kembali hadir menggelar roadshow di Kota Bandung. Apa itu XL Future Leaders dibahas dalam perbincangan interaktif di acara Blogger Meet Up XL Future Leaders yang kuhadiri pada tanggal 19 Mei 2015 lalu bersama kawan-kawan Blogger Bandung. Acara dilangsungkan di Cafe Noah's Barn yang terletak di Jl. Dayang Sumbi. Program XL Future Leaders dijelaskan oleh pembicara yang hadir, yaitu Ibu Turina (VP Corporate & Communications) dan Mas Dipta, plus Mas Navajo (fasilitator XL FL bidang community, education, & business) dan Bisma (alumni XL FL dari jurusan Astronomi ITB) yang turut sharing pengalamannya. Acara dipandu oleh Mas Indra (XL Manager Regional Bandung) sebagai MC .

Rabu, 13 Mei 2015

Wishful Wednesday #17

Rabu lagi. Saatnya wishful wednesday. Kali ini ada dua buah buku idaman yang ingin kuabsen di book wishlistku. Aku dibikin penasaran banget oleh kedua buku ini karena alasan yang erat kaitannya dengan kejadian yang kualami belum lama ini.

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared

Buku pertama adalah 100 Years Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared, karya Jonas Jonasson. Yup, buku yang udah terkenal & sejak kemarin2 boomingnya ini aku belum punya dan baca :(. Hanya menyimak saja bagaimana buku ini sering disebut-sebut oleh para pembaca, entah itu di Goodreads maupun di sosmed lain. Dari selewat baca kesan mereka membaca buku ini, sepertinya buku ini menarik. Belum lagi adikku yang lagi baca buku ini dapat pinjem senantiasa berceloteh tentang menariknya cerita di buku ini. Dari situ saja sebenarnya dalam hati sudah kutandai buku ini sebagai wishlist. Namun, keinginan memiliki & membaca buku ini tambah menggebu setelah aku nonton filmnya.

Kamis, 07 Mei 2015

23 April 2015: Bandung, KAA, & Literasi

~*Flashback 23 April 2015*~

Bandung, 23 April 2015, bertepatan dengan World Book Day. Tak ada yang istimewa dengan progres bacaku. Hanya sempat share quote dan meme terkait buku di jejaring sosmed. Jelang siang itu aku berangkat menuju kantor YPBB yang mengagendakan acara penempelan label buku koleksi perpustakaannya bersama relawan, mengambil momen di Hari Buku Sedunia itu. Agenda hari itu sebetulnya bentrok dengan kumpul relawan SMKAA divisiku. Kuputuskan untuk berpartisipasi di agenda penempelan label buku hingga zuhur, baru kemudian sesudahnya berangkat ke agenda relawan SMKAA. Saat itu Bandung masih sedang gegap-gempita oleh event peringatan KAA ke-60. Di Stadion Siliwangi, hari itu berlangsung event Angklung for The World (aksi penampilan 20 ribu performer angklung yang mencatat rekor terbanyak, ketika Bandung menjadi lautan angklung).


Maka selepas kegiatan nempel label buku & makan-makan bersama, dari Jl. Pahlawan aku berangkat menuju Jl. Perintis Kemerdekaan. Di perjalanan melewati jalan sekitar Stadion Siliwangi, kulihat para pelajar menenteng angklung setelah usai berpartisipasi dalam Angklung for The World. Sepanjang jalan yang kulewati ramai oleh aneka pernak-pernik bendera, baligo, dan poster bernuansa peringatan KAA. Sudah pukul 14.00 saat aku tiba di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), tempat kumpul relawan SMKAA yang ditentukan. Sederet jadwal event peringatan KAA yang digelar di GIM menyapa di depan gedung. Wah... Sungguh banyakkkk sekali event serentak di berbagai tempat selama periode peringatan 60th KAA ini. GIM hanyalah salah satunya. Di dalam, sedang berlangsung event diskusi buku bertajuk "Pesan dari Bandung".

Selasa, 05 Mei 2015

Nostalgia Momen Peringatan KAA ke-60

Cikapundung Timur yang ramai saat periode peringatan 60th KAA (24 April 2015)

Momen peringatan KAA sudah resmi berakhir, saatnya move on dan beranjak bebenah menunaikan PR-PR lain. Postingan fb Pak Walikota kemarin itu mengingatkanku betapa setengah bulanan gegap gempita momen peringatan Konferensi Asia-Afrika ke-60 telah berlalu. Sekian banyak yang sudah terjadi di Kota Bandung, baik itu momen penting peringatan KAA-nya sendiri, beragam event yang meramaikannya, jalanan sekitar Asia-Afrika dan Braga yang makin cantik, plus tak ketinggalan aneka insiden perusakan fasilitas & monumen yang seharusnya dijaga oleh seluruh warga. Kuikuti kilasan liputan dan beritanya yang ramai lalu-lalang di sosmed. Lalu aku jadi greget sendiri. Bagiku pribadi, tidak mudah untuk begitu saja move on dari event yang menandai banyak hal itu. Sebab begitu banyak cerita yang dapat digali dari event kemarin. Dan apa yang sudah kutulis di antara banyak cerita itu? Tidak ada, sejauh ini, sayangnya. Dan apa yang menahanku untuk tidak menulis apapun dan mewartakannya lewat blog, biar kutanyakan itu pada diriku sendiri :P.

Kamis, 16 April 2015

Siluet Pagi di Balik Punggungmu

credit: Ali Haider

Malam ini aku merindukan siluet pagi. Di balik punggungmu yang terbungkuk menekuri cangkir-cangkir kopi. Kau sibuk menakar gula. Agar pahit masa lalu terlupa, melarut kedalam pekat yang sempat mengaduk-aduk segala emosi yang terendap. Ketika itu kita, tak melihat satu sama lain. Buta oleh hitam kegelapan yang melingkupi semesta kecil kita. Kita mengaduk jiwa dalam nestapa yang menjeritkan segenap rasa. Namun hanya denting sendok-cangkir yang bersuara. Pada akhirnya, hanya buih yang mengemuka. Separuh kita yang tersisa tenggelam tanpa nama. Air mata kita mengering dan mengerak terendap di dasar bersama ampas waktu bernama kenangan. Aku hanya berharap sebelum kauhidang cecangkir kopi itu, terlebih dahulu aromanya mengusik rasa kantukku. Dengan begitu aku mungkin akan lebih siap dengan takaran rasa manapun yang menyeduh hari-hari kita. Sebelum  kuteguk kopi terakhirmu yang kauseduh untukku. Sebelum kutandaskan larutan kenangan kita. Sebelum yang tertinggal hanya ampas, kala jejak kita diempas waktu.

Jumat, 10 April 2015

Sneaker Idaman & Kejutan Shopious



Alas Kakiku...
Bicara tentang alas kaki, apapun jenisnya, apapun selera gayanya, tentu kita sepakat pada satu hal: harus nyaman dipakai. Bagiku sendiri, itu yang paling penting. Maklum, aku punya banyak pengalaman buruk dengan lecet gara-gara sepatu/sandal baru. Aku bukanlah orang yang rajin beli sepatu-sandal. Kadang suka juga sih, gara-gara window shopping jadi malah kambuh shopaholic-nya, hehe. Tapi dibandingkan dengan godaan membeli buku, aku biasanya lebih bisa menahan diri dari beli pakaian dan aksesorisnya. Seringnya tergoda dengan sepatu/sandal murah tanpa peduli kualitas membuatku kecewa dengan alas kaki yang kubeli. Tapi untuk beli yang mahal juga aku sering sayang dompet... :P.

Suatu hari aku pernah menggerutu begini, “duh, beli yang mahal di mall juga sama saja, cepat rusak”. Tanteku menimpali, “pantes aja cepat rusak, lha  kamu pakai kemana-mana, pake ngangkot, jalan kaki, mau panas atau hujan, becek juga... Kalau pakenya ala orang tajir yang gonta-ganti dan kemana-mana pake mobil pribadi sih dijamin awet...” Wkwkwk... Benar juga ya... Aku nyengir jadinya.

Kamis, 09 April 2015

3 Children Books Idaman [Wishful Wednesday 16]

Minggu-minggu kemarin bolong-bolong terus nih posting Wishful Wednesday. Padahal dari kemarin book wishlistku berderet-deret. So, minggu ini aku niatkan untuk nyicil lagi ngabsen buku-buku yang sedang aku idamkan. Aku punya banyak buku incaran yang termasuk genre Children book dan Young Adult. Yang paling kuincar terutama buku-buku yang memang terkenal dan kerap jadi favorit para pembaca, namun aku sendiri belum punya (dan baca). Mana kebanyakan buku-buku tersebut sudah susah dicari pula, berhubung sudah lama boomingnya. Di situ kadang aku merasa sedih, hiks... 3 buku yang akan kuabsen ini juga stoknya kosong di beberapa toko buku online. Tapi syukurlah, ada harapan di stok gudang penerbit.

The Miraculous Journey of Edward Tulane, karya Kate DiCamillo
credit: goodreads
Versi terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh KPG berjudul Perjalanan Ajaib Edward Tulane. Semakin menggebu menginginkan buku ini setelah baca review teman pembaca dan komentar yang rata-rata menyanjung buku ini. Belum lagi efek dari si alien ganteng Kim Seo Hyun di drama Korea You, Who Come From The Star. Konon gara2 buku ini mejeng di drama itu, buku ini jadi booming, hihi... Whatever. Kalau bukunya bagus, aku mau banget...