Brainy Words

Amazon Promo

Kamis, 05 Maret 2015

Sharing Inspiratif di Gala Dinner Motherpreneur MDS

Ada yang spesial pada malam 14 Februari kemarin. Bertempat di Hotel H Clarity Jl. Cihampelas Bandung, saya bersama 3 orang kawan blogger lainnya mendapatkan kehormatan untuk duduk menghadiri sebuah acara Gala Dinner bernuansa merah yang diadakan oleh Mizan Pelangi & Mizan Dian Semesta (MDS). 14-15 Februari 2015 memang momen istimewa perayaan anniversary 10 Tahun Halo Balita (2005-2015) dan menjadi ajang acara #Motherpreneur - Annual Meeting 2015 bagi para Book Advisornya. #Motherpreneur istilah yang menarik, berupa penggabungan antara "mothership" dan "entrepreneurship", ketika sosok ibu dalam rumah tangga menjalani peran kewirausahaan. Acara ini dihadiri oleh 200 Motherpreneur yang tergabung sebagai Book Advisor (BA) di MDS, perwakilan BA terbaik dari seluruh Indonesia. Di acara ini mereka saling menularkan semangat dan pengalamannya sebagai Motherpreneur. Mereka juga diberikan pembekalan penyuntik semangat motherpreneur melalui training, serta apresiasi penghargaan terhadap BA berprestasi selama tahun 2014.

Selasa, 03 Maret 2015

Yang Tak Tertinggal Kala Kupergi

Kalau sedang bepergian, pasti masing-masing orang punya benda khas yang tak boleh tertinggal. Di  antara banyak bawaan rempong kalau bepergian, ada beberapa benda yang paling sering setia menemani kupergi berjalan-jalan, dekat maupun jauh.

Tas Punggung
Memang sesekali kadang pakai tas selempang atau tas sampir yang girly, tapi itu biasanya kalau ada alasan tertentu seperti: kondangan ke nikahan orang, atau tas punggungnya mehong bin kotor belum dicuci. Kebiasaanku bawa barang berat saat bepergian membuatku sakit bahu sebelah kalau pakai tas selempang/sampir. Pakai tas punggung lebih nyaman, karena seimbang menggunakan dua bahu sebagai tumpuan. Bahkan saat bawaannya pun ringan, sekadar  bawa payung, misalnya, aku tetap suka pakai tas punggung yang setia menemaniku kemana-mana. Kadang orang bisa tertipu,  dikiranya aku bawa apaan banyak, padahal isinya kosong, hehe. Memangnya aku bawa apaan aja, muatannya sampai berat begitu? 
Bata? Simak saja terusannya ya...

Sabtu, 28 Februari 2015

Nostalgia Bersama Nova

Aku sudah mengenal Nova sejak kecil. Kapan tepatnya entah sudah lupa, mungkin saat SD. Yang jelas, aku sudah bisa membaca waktu itu. Kenangan menjadi pembaca kecil Tabloid Nova begitu lekat diingatanku. Kenangan yang memberikan kesan begitu kuat, sebab ada banyak cerita nostalgia dibalik kebersamaanku dengan Nova. Bagiku, ketika disebutkan tabloid wanita Indonesia bernama Nova yang kini menginjak usia 27 tahun, memoriku otomatis teringat akan kenangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku.

Nova, Mom, and Me

Nova menjadi suatu nostalgia yang melebur dalam masa kecilku. Begitu berkesan, sebab saat itu aku tumbuh di lingkungan yang kekurangan nutrisi bacaan. Sebagai seorang penyuka buku, sering aku tak bisa menyebutkan jawaban pertanyaan, apa buku masa kecil favoritmu? Tak ada buku masa kecil. Yang kuingat, bacaan utamaku selain pelajaran adalah Tabloid Nova.

Minggu, 22 Februari 2015

Ally: Komentar 2 Bab Pertama

Bagaimana perasaanmu seandainya di suatu hari yang biasa-biasa, tiba-tiba kau mendapati kehadiran seseorang dalam hidupmu, padahal selama ini orang itu tak pernah ada dalam kamus hidupmu? Ketika kau katakan tak tahu dan tak kenal siapa dia, orang-orang terdekatmu malah memandangmu ganjil, seraya menganggapmu bercanda? Atau, situasinya dibalik. Di suatu hari yang biasa-biasa, tiba-tiba kau mendapati seseorang yang dekat dalam hidupmu ternyata sudah tiada, padahal kau yakin sekali bahwa semua baik-baik saja, tak ada kejadian istimewa mengenainya? Ketika kau membicarakan orang itu sebagaimana biasanya, orang-orang di sekitarmu malah menangis atau marah, menganggapmu keterlaluan membuat lelucon kejam? Kalau kau membaca 2 bab pertama buku Ally: All These Lives, kau akan segera dibawa pada situasi ganjil itu yang menimpa tokoh utamanya, Ally.

Sabtu, 21 Februari 2015

Menghadirkan Perpustakaan & Laboratorium di Rumah



Library of Picture Books, Iwaki, Japan (pic source: here)

Meski bukan book blogger, sering sekali aku posting tentang buku. Review buku mungkin masih sedikit, akan tetapi aku sering banget ngobrolin (menggosip?) buku dan curhat buku. Tak hanya di blog, sosmed seperti fb & twitter juga kuhubungkan dengan akun jejaring sosial baca goodreadsku. Cover pic di twitter saja kini kupasangi fotoku di antara buku-buku. Kuis dan giveaway berhadiah buku juga aku terhitung rajin menyempatkan ikut. Tidak sulit untuk menebak kesukaanku pada buku. Aku bahkan berani mendeklarasikan diri sebagai book lover di profil. Kalau ditodong suruh cerita impian di blog, duh... Maaf kalau ada yang bosan. Cerita beraroma buku selalu saja kugandeng. Tapi semua juga mengerti kan, bahwa semakin sering sesuatu itu disebut-sebut oleh seseorang dengan senang hati & menggebu, semakin itu menunjukkan bahwa sesuatu itu disukai oleh si penyebut. Begitu halnya dengan impian. Semakin sering disebutkan, itu menunjukkan kuatnya keinginan mewujudkannya.

Jumat, 20 Februari 2015

Dari Blibli untuk Dia

#BlibliWeekOfLove: Dari Blibli untuk Dia

Sebagai seorang perantauan yang jarang pulang, aku kurang begitu dekat dengan keluarga di rumah. Minimnya frekuensi besuk orang tua juga kadang bisa membuat orang (terutama ibu kost) heran. Begitulah, tak seperti umumnya anak kost. Sejak awal aku kuliah hingga sekarang, segalanya terkait mencari tempat tinggal, hingga angkut-angkut pindahan kost kulakukan sendiri tanpa campur-tangan ortu. Sekarang, aku punya cerita yang agak sedikit berbeda. Kalau dulu sempat ngekos sendiri & bareng sepupu, sekarang kosanku bareng adik yang lagi kuliah di kota yang sama. So, kalau aku ditodong ikutan momen #BlibliWeekOfLove, otomatis target orang yang ingin kuhadiahi ya yang dekat ini aja toh. Dia yang lagi galau dan sibuk sama skripsi, aku yang galau sama kerjaan dan deadline nulis. Demi memperjuangkan kewarasan & kebahagiaan kecil, kami senang main dan bergokil bareng.

Di antara beberapa selera yang kutub utara dan selatan jauhnya, ada beberapa hal yang sama-sama kami suka. Salah satunya, nonton! Karena gak nonton TV, kita sukanya nonton di laptop. Kita sama-sama menggantungkan harapan akan stok file film dari teman masing-masing (gak modal ya :D). Kebiasaannya, kalau filmnya seru atau bagus, itu file film dikoleksi di folder laptop, soalnya mau dihapus juga sayang, buat ditonton lagi kapan-kapan. Tahu sendiri akibatnya, hardisk pada penuh. Itu satu hal. Selain film, kita juga suka berhaha-hihi nonton komedi yang disajikan di reality show Korea populer bernama Running Man.
Running Man cartoon (pic source: here)

Minggu, 15 Februari 2015

Memupuk Kesuburan Industri Kreatif via Media Sosial

Salah satu produk industri kreatif lokal (Festival Braga 2012, dok. pribadi)
Memupuk Kesuburan Industri Kreatif via Media Sosial
Industri kreatif kini tengah menjadi primadona yang geliatnya begitu terasa di keramaian sektor industri di tanah air. Seiring dengan trend kepariwisataan, yang kini mulai gencar menggaungkan dukungan akan pertumbuhan ekonomi kreatif lokal. Sebutlah industri fashion yang kini kian menjamur. Aneka produk dari berbagai brand fashion busana muslim semarak bermunculan, demikian pula fashion yang mengusung warisan budaya seperti batik, serta produk fashion secara umum. Begitu pula halnya berbagai jenis industri crafting. Semaraknya berbagai jenis produk hand-made rumahan turut memperkaya potensi perkembangan industri kreatif Indonesia. Belum menyebut sektor media seperti industri film, pertelevisian, musik, dan penerbitan buku, serta sub sektor industri kreatif lainnya. Geliat industri kreatif lokal ini perlu ditunjang oleh dukungan teknologi informatika dan telekomunikasi yang mumpuni, agar di era kini yang serba digital ini pertumbuhannya tidak tertinggal dan kalah cepat oleh tuntutan jaman yang terus berubah.