Rabu, 03 Juni 2015

3 Buku Memoar Perjalanan Agustinus Wibowo [WW #18]

Wishful Wednesday
Oh, my God...! 2 minggu ini banyak sekali judul-judul buku yang membayang menari-nari di benak, inginnya dimiliki dan dibaca. Ini gara-gara kemarin-kemarin aku sempat main ke kawasan Jl. Merdeka, kebetulan ada 2 agenda #BloggerBDG yang berdekatan tempatnya sama-sama di sekitar sana. Tepatnya gara-gara aku gak bisa menahan diri untuk tidak "lihat-lihat" ke suatu tempat yang seperti magnet untuk dimampiri kalau aku kesana. Gramedia Merdeka. Itu dia. Kebetulan perlu juga sih mampir kesana dalam rangka mencari sebuah judul buku yang ingin kuhadiahkan untuk kado ulang tahun adikku akhir Mei lalu. Dan hari ini waktunya posting Wishful Wednesday, cerita buku-buku idaman di hari rabu. Namun kali ini kutahan dulu deretan judul buku yang masuk wishlist gegara main ke Gramedia itu ya. Sebab sebelum aku main ke Gramedia, sebuah alasan lain sudah mengingatkanku lebih dulu akan buku idaman lain yang sebetulnya sudah nangkring di book wishlistku sejak lama.

Bertemu Agustinus Wibowo. Itu adalah kali kedua aku mendengarnya berbicara. Pertama kalinya bertemu penulis buku memoar perjalanan di daerah konflik ini yaitu sewaktu mengikuti workshop penulisan memoar inspiratif di event Indonesian Reading Festival akhir 2014 lalu. Saat itu Mas AW hanya berbicara singkat saja, karena bukan pembicara di acara itu, hanya ditodong sharing on the spot. Lalu pada 22 Mei 2015 kemarin, Mas AW hadir di Salman ITB pada acara bedah buku Garis Batas.

Minggu, 31 Mei 2015

Geeks Store: Tempat Asyik Belanja Gadget Sambil Hangout di Bandung

Jika ditanya dimana tempatnya toko aneka keperluan gadget di Bandung, BEC adalah jawaban yang pertama kali melintas di benak. Memang betul, di era euforia gadget seperti sekarang, di kota besar seperti Bandung tentu kini bertebaran banyak gadget store di berbagai tempat. Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa Bandung Electronic Center (BEC) yang terletak di Jl. Purnawarman masih merupakan pusatnya jual-beli keperluan gadget di Bandung. Satu gedung BEC rupanya belum cukup untuk menampung ramainya geliat bisnis gadget di kawasan ini. Kalau jalan-jalan ke Jl. Purnawarman, sekarang bisa kita lihat nambah lagi gedung BEC 2 yang letaknya persis di sebelah BEC lama.

Grand Opening Geeks Store di BEC 2 pada 21/05/2015
Ketika aku berkunjung kesana pada 21 Mei 2015 lalu, di depan gedung BEC 2 begitu meriah oleh banner promo dan ucapan selamat berbau "Geeks Store". Yup, hari itu merupakan momen Grand Opening sebuah toko gadget baru bernama Geeks Store yang bertempat di BEC 2 Lt. UG-AC 08, Jl. Purnawarman no. 13-15 Bandung. PT. Alvotel, sebuah perusahaan start up yang fokus di bidang importasi, distribusi, dan pemasaran aneka peralatan komunikasi rupanya tak mau ketinggalan melihat peluang pasar gadget yang besar ini dengan membuka retail gadget "Geeks Store", dengan tagline "Gudangnya gadget". Lalu apa bedanya ya dengan toko-toko gadget lain yang sudah banyak & ngumpul di BEC ini? Kalau berkunjung kesana, kita akan segera tahu bahwa Geeks Store ini memiliki konsep yang unik & beda. Kalau biasanya kita cuma disodori display gadget via etalase dan hanya bisa duduk di depannya sambil berkomunikasi dengan pelayan toko, di Geeks Store kita bisa memperoleh pengalaman berbelanja gadget yang lebih. Sebab, konsep Geeks Store memadukan toko gadget dan aksesorisnya, layanan customer service operator seluler, sekaligus tempat ngumpul asyik sembari belanja gadget. Karena di Geeks Store ada juga kafenya, bahkan menyediakan ruang meeting mini pula. Wah, menarik ya. Konon konsep seperti ini baru ada pertama kali di Indonesia lho.

Kamis, 21 Mei 2015

XL Future Leaders: Persembahan XL untuk Indonesia


"Komitmen XL Future Leaders adalah mencetak future leaders, bukan future workers".

Kini sudah bukan rahasia bahwa pendidikan tak melulu soal kecerdasan intelektual. Keberhasilan pendidikan tak cukup diukur dengan angka. IPK tinggi bukan ukuran daya saing dalam menghadapi perkembangan jaman dan kemampuan beradaptasi pada perubahan. Diperlukan kompetensi soft skills disamping hard skills. Banyak mahasiswa yang kemampuan akademisnya tinggi, namun memiliki kekurangan dalam hal komunikasi, misalnya. Demikian pula banyak kasus mahasiswa yang brilian namun terkendala latar belakang finansial untuk membiayai pendidikannya. Di sisi lain, kalau berkaca pada kondisi di tanah air, masih banyak orang bermind-set "sekolah untuk bekerja". Dari sekian banyak perusahaan yang ada di Indonesia, posisi leader masih banyak ditempati oleh orang asing. Kita tentu menginginkan Indonesia dipimpin oleh bangsa kita sendiri. Well, aku pribadi punya memori kurang enak lho pernah bekerja dengan dominasi orang asing yang bersikap superior terhadap orang kita *maap, curcol.

Komitmen CSR XL di bidang pendidikan
Fenomena itu melatarbelakangi dirancangnya program XL Future Leaders besutan perusahaan provider PT. XL Axiata. Setiap tahun XL Future Leaders menyelenggarakan roadshow di berbagai kota. Setelah berjalan selama 3 tahun, kini program XL Future Leaders 4 kembali hadir menggelar roadshow di Kota Bandung. Apa itu XL Future Leaders dibahas dalam perbincangan interaktif di acara Blogger Meet Up XL Future Leaders yang kuhadiri pada tanggal 19 Mei 2015 lalu bersama kawan-kawan Blogger Bandung. Acara dilangsungkan di Cafe Noah's Barn yang terletak di Jl. Dayang Sumbi. Program XL Future Leaders dijelaskan oleh pembicara yang hadir, yaitu Ibu Turina (VP Corporate & Communications) dan Mas Dipta, plus Mas Tidar (fasilitator XL FL bidang community, education, & business) dan Bisma (alumni XL FL dari jurusan Astronomi ITB) yang turut sharing pengalamannya. Acara dipandu oleh Mas Indra (XL Manager Regional Bandung) sebagai MC .

Rabu, 13 Mei 2015

Wishful Wednesday #17

Rabu lagi. Saatnya wishful wednesday. Kali ini ada dua buah buku idaman yang ingin kuabsen di book wishlistku. Aku dibikin penasaran banget oleh kedua buku ini karena alasan yang erat kaitannya dengan kejadian yang kualami belum lama ini.

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared

Buku pertama adalah 100 Years Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared, karya Jonas Jonasson. Yup, buku yang udah terkenal & sejak kemarin2 boomingnya ini aku belum punya dan baca :(. Hanya menyimak saja bagaimana buku ini sering disebut-sebut oleh para pembaca, entah itu di Goodreads maupun di sosmed lain. Dari selewat baca kesan mereka membaca buku ini, sepertinya buku ini menarik. Belum lagi adikku yang lagi baca buku ini dapat pinjem senantiasa berceloteh tentang menariknya cerita di buku ini. Dari situ saja sebenarnya dalam hati sudah kutandai buku ini sebagai wishlist. Namun, keinginan memiliki & membaca buku ini tambah menggebu setelah aku nonton filmnya.

Kamis, 07 Mei 2015

23 April 2015: Bandung, KAA, & Literasi

~*Flashback 23 April 2015*~

Bandung, 23 April 2015, bertepatan dengan World Book Day. Tak ada yang istimewa dengan progres bacaku. Hanya sempat share quote dan meme terkait buku di jejaring sosmed. Jelang siang itu aku berangkat menuju kantor YPBB yang mengagendakan acara penempelan label buku koleksi perpustakaannya bersama relawan, mengambil momen di Hari Buku Sedunia itu. Agenda hari itu sebetulnya bentrok dengan kumpul relawan SMKAA divisiku. Kuputuskan untuk berpartisipasi di agenda penempelan label buku hingga zuhur, baru kemudian sesudahnya berangkat ke agenda relawan SMKAA. Saat itu Bandung masih sedang gegap-gempita oleh event peringatan KAA ke-60. Di Stadion Siliwangi, hari itu berlangsung event Angklung for The World (aksi penampilan 20 ribu performer angklung yang mencatat rekor terbanyak, ketika Bandung menjadi lautan angklung).


Maka selepas kegiatan nempel label buku & makan-makan bersama, dari Jl. Pahlawan aku berangkat menuju Jl. Perintis Kemerdekaan. Di perjalanan melewati jalan sekitar Stadion Siliwangi, kulihat para pelajar menenteng angklung setelah usai berpartisipasi dalam Angklung for The World. Sepanjang jalan yang kulewati ramai oleh aneka pernak-pernik bendera, baligo, dan poster bernuansa peringatan KAA. Sudah pukul 14.00 saat aku tiba di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), tempat kumpul relawan SMKAA yang ditentukan. Sederet jadwal event peringatan KAA yang digelar di GIM menyapa di depan gedung. Wah... Sungguh banyakkkk sekali event serentak di berbagai tempat selama periode peringatan 60th KAA ini. GIM hanyalah salah satunya. Di dalam, sedang berlangsung event diskusi buku bertajuk "Pesan dari Bandung".

Selasa, 05 Mei 2015

Nostalgia Momen Peringatan KAA ke-60

Cikapundung Timur yang ramai saat periode peringatan 60th KAA (24 April 2015)

Momen peringatan KAA sudah resmi berakhir, saatnya move on dan beranjak bebenah menunaikan PR-PR lain. Postingan fb Pak Walikota kemarin itu mengingatkanku betapa setengah bulanan gegap gempita momen peringatan Konferensi Asia-Afrika ke-60 telah berlalu. Sekian banyak yang sudah terjadi di Kota Bandung, baik itu momen penting peringatan KAA-nya sendiri, beragam event yang meramaikannya, jalanan sekitar Asia-Afrika dan Braga yang makin cantik, plus tak ketinggalan aneka insiden perusakan fasilitas & monumen yang seharusnya dijaga oleh seluruh warga. Kuikuti kilasan liputan dan beritanya yang ramai lalu-lalang di sosmed. Lalu aku jadi greget sendiri. Bagiku pribadi, tidak mudah untuk begitu saja move on dari event yang menandai banyak hal itu. Sebab begitu banyak cerita yang dapat digali dari event kemarin. Dan apa yang sudah kutulis di antara banyak cerita itu? Tidak ada, sejauh ini, sayangnya. Dan apa yang menahanku untuk tidak menulis apapun dan mewartakannya lewat blog, biar kutanyakan itu pada diriku sendiri :P.

Kamis, 16 April 2015

Siluet Pagi di Balik Punggungmu

credit: Ali Haider

Malam ini aku merindukan siluet pagi. Di balik punggungmu yang terbungkuk menekuri cangkir-cangkir kopi. Kau sibuk menakar gula. Agar pahit masa lalu terlupa, melarut kedalam pekat yang sempat mengaduk-aduk segala emosi yang terendap. Ketika itu kita, tak melihat satu sama lain. Buta oleh hitam kegelapan yang melingkupi semesta kecil kita. Kita mengaduk jiwa dalam nestapa yang menjeritkan segenap rasa. Namun hanya denting sendok-cangkir yang bersuara. Pada akhirnya, hanya buih yang mengemuka. Separuh kita yang tersisa tenggelam tanpa nama. Air mata kita mengering dan mengerak terendap di dasar bersama ampas waktu bernama kenangan. Aku hanya berharap sebelum kauhidang cecangkir kopi itu, terlebih dahulu aromanya mengusik rasa kantukku. Dengan begitu aku mungkin akan lebih siap dengan takaran rasa manapun yang menyeduh hari-hari kita. Sebelum  kuteguk kopi terakhirmu yang kauseduh untukku. Sebelum kutandaskan larutan kenangan kita. Sebelum yang tertinggal hanya ampas, kala jejak kita diempas waktu.