Kamis, 16 April 2015

Siluet Pagi di Balik Punggungmu

credit: Ali Haider

Malam ini aku merindukan siluet pagi. Di balik punggungmu yang terbungkuk menekuri cangkir-cangkir kopi. Kau sibuk menakar gula. Agar pahit masa lalu terlupa, melarut kedalam pekat yang sempat mengaduk-aduk segala emosi yang terendap. Ketika itu kita, tak melihat satu sama lain. Buta oleh hitam kegelapan yang melingkupi semesta kecil kita. Kita mengaduk jiwa dalam nestapa yang menjeritkan segenap rasa. Namun hanya denting sendok-cangkir yang bersuara. Pada akhirnya, hanya buih yang mengemuka. Separuh kita yang tersisa tenggelam tanpa nama. Air mata kita mengering dan mengerak terendap di dasar bersama ampas waktu bernama kenangan. Aku hanya berharap sebelum kauhidang cecangkir kopi itu, terlebih dahulu aromanya mengusik rasa kantukku. Dengan begitu aku mungkin akan lebih siap dengan takaran rasa manapun yang menyeduh hari-hari kita. Sebelum  kuteguk kopi terakhirmu yang kauseduh untukku. Sebelum kutandaskan larutan kenangan kita. Sebelum yang tertinggal hanya ampas, kala jejak kita diempas waktu.

Jumat, 10 April 2015

Sneaker Idaman & Kejutan Shopious



Alas Kakiku...
Bicara tentang alas kaki, apapun jenisnya, apapun selera gayanya, tentu kita sepakat pada satu hal: harus nyaman dipakai. Bagiku sendiri, itu yang paling penting. Maklum, aku punya banyak pengalaman buruk dengan lecet gara-gara sepatu/sandal baru. Aku bukanlah orang yang rajin beli sepatu-sandal. Kadang suka juga sih, gara-gara window shopping jadi malah kambuh shopaholic-nya, hehe. Tapi dibandingkan dengan godaan membeli buku, aku biasanya lebih bisa menahan diri dari beli pakaian dan aksesorisnya. Seringnya tergoda dengan sepatu/sandal murah tanpa peduli kualitas membuatku kecewa dengan alas kaki yang kubeli. Tapi untuk beli yang mahal juga aku sering sayang dompet... :P.

Suatu hari aku pernah menggerutu begini, “duh, beli yang mahal di mall juga sama saja, cepat rusak”. Tanteku menimpali, “pantes aja cepat rusak, lha  kamu pakai kemana-mana, pake ngangkot, jalan kaki, mau panas atau hujan, becek juga... Kalau pakenya ala orang tajir yang gonta-ganti dan kemana-mana pake mobil pribadi sih dijamin awet...” Wkwkwk... Benar juga ya... Aku nyengir jadinya.

Kamis, 09 April 2015

3 Children Books Idaman [Wishful Wednesday 16]

Minggu-minggu kemarin bolong-bolong terus nih posting Wishful Wednesday. Padahal dari kemarin book wishlistku berderet-deret. So, minggu ini aku niatkan untuk nyicil lagi ngabsen buku-buku yang sedang aku idamkan. Aku punya banyak buku incaran yang termasuk genre Children book dan Young Adult. Yang paling kuincar terutama buku-buku yang memang terkenal dan kerap jadi favorit para pembaca, namun aku sendiri belum punya (dan baca). Mana kebanyakan buku-buku tersebut sudah susah dicari pula, berhubung sudah lama boomingnya. Di situ kadang aku merasa sedih, hiks... 3 buku yang akan kuabsen ini juga stoknya kosong di beberapa toko buku online. Tapi syukurlah, ada harapan di stok gudang penerbit.

The Miraculous Journey of Edward Tulane, karya Kate DiCamillo
credit: goodreads
Versi terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh KPG berjudul Perjalanan Ajaib Edward Tulane. Semakin menggebu menginginkan buku ini setelah baca review teman pembaca dan komentar yang rata-rata menyanjung buku ini. Belum lagi efek dari si alien ganteng Kim Seo Hyun di drama Korea You, Who Come From The Star. Konon gara2 buku ini mejeng di drama itu, buku ini jadi booming, hihi... Whatever. Kalau bukunya bagus, aku mau banget...

Rabu, 08 April 2015

Bedah Buku "Ketika Ibu Melupakanku"

Bagaimana rasanya dilupakan oleh ibu sendiri? Tak terbayangkan. Lagipula, ibu yang melupakan anaknya, memangnya ada? Pertanyaan macam itu mungkin hinggap di benak kita. Namun, pengalaman tak terbayangkan itu benar-benar dialami oleh Mbak DY Suharya. Hari-hari di rumah diwarnai dengan pertengkaran demi pertengkaran. Menghadapi perilaku sang ibu sehari-hari yang tak masuk akal, membuat emosi, dan kerap membuat frustasi, menjadikan rumah kehilangan kehangatannya. Depresi dengan semua itu, Mbak DY memutuskan meninggalkan rumah, "melarikan diri", kuliah & bekerja di luar negeri . Saat itu Mbak DY tidak tahu... Sang ibu terkena gejala penyakit Demensia Alzheimer.

Pengalaman menyakitkan itu membawa hikmah yang begitu besar dalam kehidupan Mbak DY. Rasa sesal akan kesalahpahaman tehadap sang ibu, janganlah orang lain turut merasakannya. Mbak DY yang kini lebih memahami kondisi sang ibu, aktif di komunitas peduli Alzheimer. Sebagai persembahan untuk sang ibu, pengalaman hidup yang memberikan pelajaran besar baginya itu dituangkan ke dalam sebuah buku berjudul "Ketika Ibu Melupakanku". Kisah tersebut dikemas ke dalam bentuk novel yang ditulis bersama Mbak Dian Purnomo.
Ketika Ibu Melupakanku

Minggu, 05 April 2015

Indihome: Akses Internet Super Kencang Plus-plus di Rumah

Sekarang ini, terasa sekali kebutuhan akan akses internet sudah tak bisa dipisahkan dari keseharian, kapanpun dan dimanapun. Berkaca pada pemakaian kuota internet bulananku sendiri, akhir-akhir ini kuota internet yang biasa kubeli Rp.50ribu sering habis duluan sebelum nyampe sebulan. Hadeuh, maklum biasanya di kosan aku mengandalkan modem untuk akses internet. Padahal penggunaan akses internet utamaku biasanya untuk sekadar mencari informasi, akses email, bersosmed, ngeblog, tak lupa dengan acara blogwalking jika sempat. Itu membuatku wanti-wanti untuk tidak sering-sering membuka youtube atau streaming video lainnya. Padahal saat ini untuk hiburan berupa tontonan pun sudah lama aku tak mengandalkan TV. Begitulah latar belakang mengapa aku yang sebenarnya suka banget nonton film, segala drama Korea/Jepang, juga penonton setia reality show Running Man menjadi bernasib tidak up to date, hiks... *Penting ya? :D. Bisa ditebak, untuk bisa menonton semua itu aku cuma bisa menunggu belas kasih teman yang punya file-nya... Hehe... Kalau mau download sendiri harus hunting wifi gratisan yang kenceng dengan tempat yang ada colokannya, berhubung laptop tuaku sudah tak bisa hidup mengandalkan baterainya sendiri T_T *curcol deh.

credit: Indihome
Duh, itu gambaran mellow kondisi akses internetku saat ini. Belum menyebutkan acara kesal-kesal akibat internet lup-lep, lelet, lola, apapun namanya karena sinyal yang tak stabil, terutama di cuaca sering hujan besar macam sekarang ini. Kalau sedang ngedeadline, kebayang capek & dag-dig-dugnya berkali lipat :D. Bisa dibayangkan betapa aku ber"wooow" ria ketika mendengar bahwa kini layanan internet supercepat dengan kecepatan up to 100 Mbps sudah hadir sebagai inovasi dari Telkomsel.

Rabu, 01 April 2015

Ada Surga di Rumahmu


 "Seorang ibu mampu mengorbankan segalanya demi 10 anaknya, tetapi 10 orang anak belum tentu mampu mengorbankan segalanya demi seorang ibu."

Film Ada Surga di Rumahmu
Tersebutlah seorang anak bernama Ramadhan dari Palembang. Di masa kecilnya, ia kerap melakukan kebandelan dan berkelahi kala emosi. Suatu hari di perjalanan berangkat mengaji ke mushola ia berulah, sehingga ayahnya (Abuya) menghukum Ramadhan untuk maju mengisi pengajian di depan teman-temannya. Ternyata Ramadhan memiliki bakat bercerita yang bagus. Dalam ceramahnya ia bercerita kisah fenomenal Uwais Al-Qarni, seorang yang sangat berbakti kepada ibunya. Orang tua Ramadhan kemudian memutuskan untuk memasukkan Ramadhan ke pesantren untuk dididik oleh Ustadz Attar, berharap kelak ia menjadi pendakwah yang baik. Disini ia bertemu dengan dua orang santri yang kelak menjadi sahabat dekatnya hingga dewasa. Beranjak dewasa, Ramadhan mengabdi sebagai ustadz muda sederhana di pesantren yang sama dan mengajar bela diri. Hasil didikan Ustadz Attar merubahnya menjadi seorang yang santun dan berbakti kepada orang tua. Namun, pada suatu titik ia merasa jenuh, merasa potensi masa mudanya jauh lebih besar dari sekadar mengajar di pesantren kecil. Ketika muncul kesempatan untuk audisi casting film laga, bertiga bersama sahabatnya ia berangkat diam-diam ke Jakarta tanpa seizin Ustadz Attar maupun orang tuanya. Setiba di Jakarta, rencananya menemui kendala. Mereka terpaksa menginap di sebuah masjid. Saat itu, dalam tidurnya, Ramadhan melihat ibunya tengah menderita sakit, mengulurkan tangan meminta pertolongannya...

Sabtu, 28 Maret 2015

Bebek Kaleyo: Tempatnya Makan Enak & Murah di Bandung




Bebek Kaleyo: tempatnya makan enak & murah di Bandung.

Bagi penggemar kuliner olahan bebek, tentu sudah familiar dengan nama Bebek Kaleyo. Nama Bebek Kaleyo sudah demikian terkenal karena keunggulan rasa dan harganya yang relatif terjangkau. Ketenaran Bebek Kaleyo sudah terkenal tak hanya di Jakarta saja, melainkan sudah merambah pula ke kota-kota lain seperti Depok, Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Suatu kegembiraan tersendiri ketika sekarang ini hadir pula outlet Bebek Kaleyo di Kota Bandung. Terletak di Jl. Pasir Kaliki no. 185-189, Bebek Kaleyo kini hadir menambah semarak kuliner Kota Bandung. Asyiik... Bagi penggemar kuliner di Bandung seperti aku, kini sudah bisa menyicip kelezatan aneka olahan bebek tanpa harus jauh-jauh ke luar kota. Tidak sulit untuk menemukan outletnya yang terletak di perempatan Pasteur ini. Berada satu kompleks dengan FO Bali Heaven, outlet Bebek Kaleyo cabang ke-14 ini resmi dibuka sejak 30 Januari 2015 lalu.