Jumat, 24 Februari 2012

Habibie: Kecil tapi Otak Semua

Habibie: Kecil Tapi Otak SemuaHabibie: Kecil Tapi Otak Semua by Andi Makmur Makka

My rating: 4 of 5 stars


Really like it.

Sejak awal, buku ini memang memaparkan potongan-potongan pengalaman menarik BJH yang diambil dari rentang masa yang cukup panjang, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, ketika menjadi mahasiswa dan bekerja di Jerman, hingga ketika masa pengabdian beliau di tanah air, saat menjabat sebagai menristek dan memerintah sebagai presiden ke-3 RI. Tidak disusun secara kronologis, melainkan dikategorikan berdasarkan tema yang berkaitan. Meski demikian, karena kategori tema pertama memuat tentang Masa Kecil, Mahasiswa, dan Dirantau, awalnya aku sedikit greget karena begitu sedikit informasi mengenai kisah hidup BJH pada masa tersebut yang terceritakan. Kenyataannya, aku ingin tahu lebih banyak. Aku merasa, penggalan-penggalan cerita yang disajikan di bagian awal-awal itu biasa saja, tak terlalu mengesankan. Yah, aku terlanjur tertarik dengan pribadi tokoh negara yang satu ini. Lain kali aku harus membaca biografi lengkap beliau. Lagi pula, buku ini kan hanya menyajikan kilasan-kilasan...

Namun, kesan biasa saja itu mulai memudar ketika tema kedua mulai kulahap, mengenai Kebijakan dan Gagasan. Bagian ini mulai menghidupkan keantusiasanku lebih jauh. Menyimak bagaimana cara pandang BJH terhadap pembangunan bangsa, bagaimana ide dan gagasan yang beliau kemukakan dan terapkan, menyedot perhatianku semakin dalam terhadap buku ini. Sesudahnya, aku bahkan tak henti membaca dan terus membaca hingga halaman terakhir buku ini. Satu tancap gas untuk sekitar 250 lebih halaman, ngebut :D.

Kuakui, aku tak begitu mengenal BJH dan belum baca satu pun buku tentangnya sebelumnya. Aku hanya mengenalnya sebagai seorang tokoh negara, dengan kejeniusan yang pengecualian, dengan prestasi internasional beliau yang membanggakan. Bukunya, "Detik-detik yang Menentukan", pernah nangkring di komputerku dalam bentuk ebook saat aku masih mahasiswa, dan tak pernah sempat kubaca, turut raib bersama PC yang digondol maling saat itu. Jauh sebelum itu, saat beliau menjabat dalam anggota kabinet pembangunan, sampai akhirnya diamanahi menggantikan Presiden Soeharto pada jaman reformasi 1998 itu, aku hanya seorang bocah SD yang mengenal Pak Habibie dari seringnya muncul di televisi. Tahun-tahun setelahnya, aku tak pernah punya passion berlebih terhadap topik politik. Tak tahu siapa beliau, namun anehnya entah kenapa ada perasaan respek terhadap tokoh yang satu itu. Ini jarang terjadi, mengingat dunia politik, plus orang-orangnya (meski tentu hanya oknum tertentu), sering bikin muak dan karenanya tak mudah untuk merasa respek terhadap tokoh-tokoh politik tanpa mengenalnya dengan baik. Membaca bagaimana gagasan dan pandangan serta pengabdian yang ditunjukkan BJH semasa pengabdiannya terhadap negara mengaminkan rasa respek yang kini lebih beralasan, dan menaikkannya menjadi "ngefans", haha.

Gagasannya mengenai falsafah pembangunan adalah sebuah konsep pembangunan yang didasarkan pada nilai tambah (added value). Karenanya, BJH memandang pembangunan SDM sebagai prioritas. Beliau ingin membangun ekonomi bangsa dengan memajukan iptek, dan caranya adalah dengan mendidik SDM kita sendiri dengan pendidikan dan keterampilan yang dibutuhkan. Ini berkaitan dengan sebuah visi jangka panjang masa depan bangsa yang masih berkembang. Butuh investasi yang besar untuk tujuan yang besar, dan butuh waktu untuk membuahkan outcome yang dihasilkan. Rupanya strategi pembangunan kompetitif inilah, yang pada masa BJH mengemban proyek Industri Strategis yang ditugaskan Pak Harto pada jamannya, yang seringkali jadi sasaran empuk kritikan dan tudingan para ekonom yang lebih cenderung pada pembangunan komparatif. Itu juga yang membuatnya dijuluki Mr. Big Spender...

Kejeniusannya dalam bidang engineering sih sudah menjadi rahasia umum. Tetapi yang mencengangkan, perhitungan dan prediksinya mengenai isu ekonomi juga terbukti jitu. Krismon pada 1998 adalah konsekuensi dari (salah satunya) kebijakan pembangunan ekonomi komparatif tanpa dipadukan dengan pembangunan kompetitif yang tampaknya sudah terprediksikan oleh analisis pemikiran BJH. BJH memang jenius sejati. Otaknya adalah kombinasi canggih keahlian matematis otak kiri sekaligus kreativitas otak kanan. Tak hanya punya gagasan, tapi juga mampu mewujudkannya ke dalam produk nyata. Kawan-kawannya di Jerman menjulukinya Mr. Crack karena ahli dalam bidang crack propagation pada struktur pesawat. Lalu di tanah air beliau dijuluki pula Mr. Cracker karena mampu menyeldiakan solusi atas masalah-masalah pembangunan yang diembankan kepadanya. Yah, seperti kata covernya, badannya sih kecil, tapi otak semua...

Anyway, kenapa jadi kepanjangan dengan topik yang serius? Buku ini menyajikan berbagai penggalan kisah dengan santai kok. Kebanyakan diantaranya malah kisah yang mengundang senyum. Di buku ini diceritakan tak hanya soal prinsip yang dipegang BJH, melainkan juga tentang pengalaman unik dan lucu, kehidupan sehari-harinya, kebiasaannya, kegokilannya, bahkan tentang meja kerjanya yang terkenal dan fenomenal (dipenuhi miniatur berbagai jenis pesawat). Semacam kumpulan mozaik kehidupan BJH yang di dalamnya ada nilai-nilai yang bisa kita ambil. Inspirasikah, hikmah, ibrah, atau apalah...

Mr. Crack, Mr. Cracker... apa pun namanya... I really like your style, Sir... :D



View all my reviews

Sabtu, 18 Februari 2012

Filosofi Kopi

Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu DekadeFilosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade by Dee

My rating: 3 of 5 stars


Pada suatu ketika, entah tahun berapa sudah lupa, aku pernah mengintip isi buku ini, membaca satu cerpennya, yakni Filosofi Kopi yang juga jadi judul buku ini hingga tuntas, di toko buku Gramedia Jl. merdeka sambil berdiri. Kala itu, banyak orang memperbincangkan karya Dee ini sehingga bikin aku penasaran, dan setelah baca cerpen itu aku cukup terkesan. Tetapi aku tak pernah berkesempatan mengintip cerpen-cerpen lainnya maupun prosa-prosa selebihnya yang ada di buku ini. Saat itu aku merasa, buku ini kelewat mahal untuk ukuran "sebuah buku tipis". Aku menunggu dan menunggu hingga saatnya harganya "lebih bisa diajak kompromi", eh tahunya sampai sekarangpun, 6 tahun berlalu sejak peluncuran perdananya pada 2006, harga buku ini tetap tak bergeming. Malah kali ini diterbitkan oleh Bentang dengan wajah sampul baru dan iming-iming bonus preview sekuel seri Supernova episode Partikel yang katanya sebentar lagi akan diterbitkan. Bah, akhirnya aku menyerah. Kubeli juga nih buku :p.



Di antara cerpen-cerpen yang ada di buku ini, cuma cerpen Filosofi Kopi yang paling membuatku terkesan. Cerpen-cerpen lain, dari segi isi tak begitu mengesankan buatku, hanya cara Dee merangkai diksi-diksi di dalamnya tetap saja mengesankanku. Ya, aku suka sama tulisan-tulisan Dee, suka sama cara dia membuat metafora-metafora yang tak biasa. Suka sama gaya tulisannya yang seringkali mengadopsi metafora dari fenomena sains dan dunia eksakta, meramunya ke dalam kata-kata sedemikian rupa tanpa terjebak pada kekeringan makna dan estetika. Juga tak terjebak menjadikan tulisannya "berat", melainkan mengalir ringan dan santai saja. Yah, aku suka gayanya. Cara Dee menyajikan sebuah ide jarang yang biasa-biasa alias pasaran, meski mungkin dari segi tema biasa saja. Beberapa prosa yang tertuang di buku ini juga bercita rasa kira-kira tak jauh beda. Prosanya singkat-singkat, mengangkat tema-tema sederhana yang tak terlalu luar biasa, hanya cara dia menyajikannya itu yang membikin aku suka sama tulisan-tulisannya.



overall, penilaianku untuk buku ini: isi biasa saja, tapi tulisannya aku suka. 3 bintang. Just like it :).



View all my reviews

The Blind Owl

The Blind Owl: Dunia Retak Sang PecintaThe Blind Owl: Dunia Retak Sang Pecinta by صادق هدایت

My rating: 2 of 5 stars


Seperti kata review temen-temen lain, ini novel emang suram banget. Secara tulisan sih bagus menurutku. Meski temanya suram dan bacanya seram, tetapi gaya penulisan Sadeq Hidayat ini cukup puitis. Diksi-diksinya lumayan bagus. Terjemahannya juga enak. Tetapi sayangnya itu ya temanya aku ga suka. Sadeq Hidayat disini terlalu terobsesi dan memuja kematian dan memandang kehidupan dengan full pesimistik. Tak mengherankan sebenarnya mengingat penulis yang satu ini sudah dua kali mencoba mengakhiri hidupnya sendiri dengan bunuh diri, dan berhasil pada usahanya yang kedua itu. Memang sisi kelam kehidupan dan penderitaanlah yang disampaikan di karya yang disebut-sebut sebagai masterpiece-nya ini. It was ok. Memang bagus ketika dia mengupas hal itu. Secara sastra juga banyak dipuji. Tapi buatku ini tak seimbang ah. Toh hidup juga punya dua sisi, bahkan banyak sisi. Tak seluruhnya sekelam itu... So, secara keseluruhan buatku: karya yang bagus, tapi aku ga suka. Jadilah 2 bintang saja.

Selain novel pendek the Blind Owl, buku tipis ini juga disertai beberapa cerpen. Kisah the Blind Owl-nya sendiri benar-benar suram, dan aku ga terlalu ngerti jalan ceritanya, hehe. ilusi dan realita entah tak bisa dibedakan. Maklumlah, tokohnya juga gila. Dan kisah kehidupannya juga cukup aneh-aneh dan seram.

Cerpen-cerpennya berbeda-beda nuansa, meski secara keseluruhan temanya masih relatif sama: pandangan terhadap kehidupan yang pesimistik, sarkastik, dan diantaranya ada yang secara gamblang memuja kematian (lagi-lagi!). Meski demikian, aku cukup terhibur dengan adanya cerpen-cerpen ini yang sama sekali berbeda-beda nuansanya setelah dicekam seram oleh cerita Blind Owl-nya yang bernuansa kelam.



View all my reviews

Sabtu, 11 Februari 2012

Berhenti Sejenak di Dunia Anak-anak

Suatu hari di bulan januari.

Aku tengah mengalami saat-saat ketika lingkunganku sekali lagi mencoba mengubahku menjadi orang lain. Aku pernah mengalami ini sebelumnya di sebuah lingkungan lain. Kala itu, ketika kurasa diriku sudah cukup terlalu banyak "diubah" --yah, mungkin tepatnya belum diubah, tapi sudah cukup membuat diriku tak tahan dengan gejala perubahan yang semakin jelas-- aku sampai pada pemikiran bahwa aku harus segera melangkah, menjauh, pergi dari situ. Itu karena jelas-jelas aku tak berhasil melindungi diriku sendiri dari pengaruh luar yang menyerang. Tetap tinggal disana hanya akan semakin menguatkan perubahanku menjadi orang lain. Jika sudah begitu, aku khawatir aku takkan bisa mengenali diriku sendiri dan membuatku menjadi lebih asing lagi.

Ketika sekali lagi kualami ini, aku tengah demikian lelah. Lelah dan merasa rapuh. Emosi menguasai diriku. Bukan sebaliknya. Aku mulai melihat diriku yang asing. Ini gejala seperti yang kualami dulu. Sebuah pemikiran mulai menggodaku: haruskah aku menjauh lagi seperti dulu? Apakah sudah saatnya aku pergi?
Hingga kini pemikiran itu masih tersimpan. Aku tak tahu apakah ia tersimpan di wadah kaca, yang sewaktu-waktu bisa saja pecah jika sesuatu menyerangnya lagi? Aku tak tahu.

Suatu penghujung minggu di bulan januari.
Ketika hari-hari hanya berputar dalam rutinitas yang serasa tiada akhir. Ketika rutinitas demikian melelahkanku. Ketika sebuah pemikiran terperangkap dalam wadah kaca. Sebuah kesempatan menawarkanku untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang tiada akhir itu.

Setelah beberapa waktu tanpa kabar, aku menyambung kontak dengan seorang kerabat. Rupanya weekend itu sekolah tempatnya mengajar anak-anak PAUD hendak mengadakan acara di kebun binatang. Seorang kerabat lain dan puteri kecilnya akan turut serta, katanya. Jadi ia mengajakku untuk bertemu disana. Yah, kenapa tidak? Ini akan jadi mediaku keluar sejenak dari kelelahan yang menghajarku habis-habisan akhir-akhir ini. Ide bagus.

Dan ternyata itu ide yang memang benar-benar bagus. Aku bukannya tak mencoba untuk menghapus kelelahan dan emosi yang membayangiku di setiap ujung hari. Aku mencoba, dan aku semakin lelah karena ternyata aku tak pernah berhasil. Ide itu, terbukti dapat menghapuskan sejenak diriku dari ingatan rutinitas dan segala kelelahan itu...

Suatu penghujung minggu dan puncak kelelahan di bulan januari. 
Sabtu pagi, berbekal roti dan air, tak lupa ID card kantor yang mengantarku memasuki gerbang tanpa biaya, aku melenggang menyusuri anak-anak tangga menuju area kebun binatang. Kucari dimana gerangan rombongan kerabatku, namun selama beberapa waktu belum juga ketemu. Sambil mencari, kulewati beberapa spesies unggas seraya mengagumi keanekaragaman dan keunikannya. Mengunjungi kebun binatang tak pernah membosankan, kukira. Ada saja informasi dan kekaguman baru tiap kali mengunjunginya. Meski jenis-jenis binatang yang ada persis sama dengan terakhir kali aku berkunjung kesini, aku mengamati dan melewatinya dengan ketertarikan yang tidak berkurang seolah-olah aku baru melihatnya untuk pertama kali. Mungkin sebagian disebabkan karena spesies-spesies itu tak setiap hari dapat dilihat di sekitar. Sebagian lagi disebabkan juga karena aku kurang pandai menghafal. Jika hari ini aku melihat dan mendapat informasi apa nama dan jenis spesies-spesies itu, besoknya, bahkan beberapa jam kemudian aku sudah lupa lagi dan takkan mampu menyebutkan spesies apakah itu. Payah, tapi tak apa. Kelemahan macam ini dapat juga membuat dunia ini tampak senantiasa misterius dan luar biasa, bukan? Excuse macam apa tuh, hahaha. Yah, setidaknya dunia takkan semembosankan kalau kita tahu segala hal dan hafal semua hal yang pernah kita tahu :D.

Ah, kenapa jadi membicarakan spesies? yah, tak apa, kita kan sedang bertualang di kebun binatang. Tetapi sebenarnya, bukan binatang yang hendak aku bicarakan dan amati disini. Aku justru mengamati para pengunjungnya...

Perlu beberapa waktu untuk bertemu rombongan kerabatku. Jadi aku mencari sambil berjalan kesana-kemari, sesekali menggigit bekal roti yang kubawa dengan perasaan bebas. Disini, sekarang ini akhirnya aku mampu menghapuskan kelelahan dan mengucapkan selamat tinggal pada rutinitas meski hanya sementara. Lalu akhirnya aku bertemu dengan kerabatku dan rombongan murid PAUD beserta para orang tuanya.

Sementara menunggu kerabatku menunaikan tugasnya sebagai guru di acara sekolah itu, aku menemani kerabatku yang lain dengan puteri kecilnya yang baru sebelas bulan berkeliling. Usia sebelas bulan masih kurang asyik untuk diajak keliling kebun binatang sebenarnya. Tetapi aku mengamati si kecil ini begitu antusias ketika melihat-lihat kera dan anaknya. Dia tertawa-tawa dan mata beningnya berbinar-binar. Melihat hewan lain tak seantusias itu, bahkan gajah yang besar sekalipun. Aku hanya bisa menebak-nebak apa yang dipikirkannya lewat mata beningnya yang polos.

Acara sekolah itu cukup lama juga. Jadi kami memutuskan untuk mengajak si kecil memasuki area bermain. Area bermain yang sangat sederhana, berisi permainan yang biasa ada di sekolah-sekolah TK. Masuknya hanya 2000 rupiah. Ada ayunan kecil dan besar, perosotan, kursi-kursi berputar, kuda-kudaan goyang, jungkat-jungkit, dan panjat-panjatan. Kebanyakan catnya sudah mengelupas, ada juga yang karatan dan sudah tak berfungsi. Kami mencoba menghibur si kecil dengan naik ayunan, kuda-kudaan goyang, dan terakhir jungkat-jungkit yang cukup antri penggunanya. Lama juga kami disana. Si kecil tampak senang dengan permainan-permainan itu dan tertawa-tawa. Aku juga senang naik permainan-permainan itu, hehe. Aku mengamati banyak juga pengunjung yang masuk area permainan yang 'sangat biasa' ini.

Kebanyakan 'customer'nya berusia sekitar PAUD dan TK, dengan para orang tua mereka yang mengantar. Anak-anak usia TK yang aktif main-main sendiri dengan teman-temannya. Anak-anak yang lebih kecil mencoba aneka permainan didampingi orang tua mereka. Para pengunjung bergembira. Aku juga gembira. Yang paling menghibur adalah pasangan muda suami-istri dengan puteri kecil mereka. Mereka main jungkat-jungkit dengan gembira, dengan puterinya di pangkuan. Aku senang melihat mereka seperti anak-anak, gembira dengan permainan-permainan 'biasa banget' yang biasanya bagi orang dewasa ga menarik dan bosan. Aku juga membayangkan pikiran anak-anak ketika bermain-main disini. Semuanya menyenangkan. Permainan-permainan yang karatan ini membawakan kebahagiaan sederhana khas anak-anak yang alami. Tanpa campur-tangan kemewahan dan semacamnya.

Detik-detik terakhir kami berjalan-jalan sedikit lebih jauh. Dari tadi kami hanya berjalan-jalan tak begitu jauh dari area acara sekolah. Lagi pula kerabatku kecapaian karena sambil menggendong. Kami menemukan lagi area-area bermain yang lain yang secara fisik terlihat lebih menarik (dan tiketnya lebih mahal tentunya). Ada balon air dan semacamnya, kereta-keretaan, dan akhirnya ketemu komidi putar. Kerabatku tampak antusias dengan komidi putar ini. Menurutnya, si kecilnya pernah naik komidi putar dan begitu senang. Lagi pula disini murah, hanya 2000 perak dan cukup kenyang berkali-kali putaran. Jadi begitulah, sekali lagi aku membayangkan pikiran anak-anak, dan naik komidi putar dengan tunggangan macam-macam bentuk hewan yang menarik. Aku naik kuda nil, si kecil naik ayam, lalu whuzzz... kita terbang ke negeri awan... hehehe... Imajinasi anak-anak yang tak terbatas itu...

Aku ingat samar-samar pernah naik komidi putar waktu TK. Dan ngomong-ngomong, melihat antusiasme pengunjung dan anak-anaknya melihat-lihat aneka binatang disini aku jadi ikut senang. Mengamati para pengunjung memunculkan tebak-tebakan atau dugaan seperti: Para orang tua itu tentunya menyempatkan waktu di weekend begini di sela-sela kesibukan bekerja untuk menyenangkan anak-anak mereka. Anak-anak begitu antusias melihat-lihat binatang, lagipula bagus untuk menambah wawasan mereka. Ada juga para remaja yang tampaknya memang berkunjung untuk kepentingan tugas sekolah. Mereka sih, kurang menarik buatku :D. Adapun para orang tua sebagian ada yang terlihat sama antusiasnya melihat-lihat binatang, ada juga yang terlihat gembira karena melihat anaknya gembira. Suasana ini sungguh menyegarkan. Sebagian orang dewasa bahkan terlihat memunculkan kembali jiwa kanak-kanak mereka... Kukira aku takkan keberatan, bahkan dengan senang hati menjadi anak-anak tiap kali berkunjung kesini. Lagipula aku tak ingat pernah kesini saat usiaku masih beneran anak-anak...

Acara sekolah usai, makan siang di atas tikar dengan lingkungan alami seperti ini... Refreshing yang benar-benar ok. Mengamati anak-anak di sekitar ada yang menangis karena terjatuh, ada yang hiperaktif manjat-manjat pagar kolam, lari kesana-kemari... Oh, anak-anak ini menyenangkan, tapi aku tak bisa bayangkan pekerjaan guru TK atau PAUD seperti itu. Aku suka dunia anak-anak, tapi canggung bergaul dengan mereka :P. Hanya di benakku saja aku demikian mengagumi dunia kanak-kanak. Dunia yang polos itu. Murni tanpa kontaminasi. Alami. Manis sekali. Jiwa kanak-kanak adalah cermin yang baik untuk refleksi diri. Seperti itulah diri kita yang murni. Kita pernah, di suatu fase kehidupan ini, sama manisnya dengan mereka. Sama bebasnya dengan mereka. Suatu masa ketika belenggu-belenggu belum menguasai diri kita...

Semua ini mengabulkan keinginanku untuk sejenak berhenti dari pikiran-pikiran lelah akan rutinitas. Terima kasih para pengunjung kebun binatang. Terima kasih anak-anak. Perhentian sejenak ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Semoga membantuku untuk menemukan diriku sendiri.      

Jumat, 27 Januari 2012

The Story Girl

The Story Girl The Story Girl by L.M. Montgomery

My rating: 3 of 5 stars


Sebuah kisah masa kecil 7 orang bersahabat yang sederhana namun indah. Kisahnya memang sederhana, menceritakan hari-hari mereka dengan berbagai dongeng, permainan, dan kekonyolan khas anak-anak. Natural sekali (hanya agak lebay saat menceritakan pesona si Gadis Dongeng kala mendongeng). Aku paling suka dengan setting yang digambarkan dalam kisah Gadis Dongeng ini. Menyenangkan sekali membayangkan keindahan tempat tinggal dan tempat bermain Gadis Dongeng dan kawan-kawan di sekitar kediaman keluarga King di Carlisle di Pulau Prince Edward. Cara Lucy M. Montgomery menggambarkan setting cerita, lingkungan kediaman keluarga King yang menyimpan sejarah keluarga berpuluh tahun yang tetap terjaga, benar-benar kuat dan mengesankan. Aku seperti dapat membayangkan rumah tua keluarga King dengan lingkungan sekitar yang khas: Kebun King dengan pohon-pohon apelnya yang adalah Pohon Hari Kelahiran keluarga, Jalan Setapak Paman Stephen, tempat bermain favorit "Batu Khotbah", juga pepohonan cemara, mapple, willow, dan bunga-bunga yang beraneka dan menambah keindahan musim semi. Peternakan, hutan cemara, bukit, padang rumput... benar-benar indah. Seperti alinea penutupnya yang juga indah:

"Musim panas kami yang begitu indah sudah berakhir. Kami mengalami begitu banyak kegembiraan, keindahan pagi hari, lamunan dan kemewahan pada tengah hari, serta kedamaian pada malam-malam panjang berwarna lembayung. Kami menikmati nyanyian  burung, hujan keperakan di ladang yang menghijau, badai di antara pepohonan, padang rumput dengan bunganya yang bermekaran, dan percakapan dedaunan yang berbisik-bisik. Kami bersahabat dengan angin dan bintang, buku dan dongeng, serta tungku api yang menyala pada musim gugur. Kehidupan kami diisi dengan tugas ringan sehari-hari yang menyenangkan, persahabatan yang indah, diskusi, dan petualangan. Kenangan kami akan bulan-bulan yang telah berlalu itu jauh lebih kaya daripada yang kami duga. Dan, di hadapan kami, terbentang mimpi akan musim semi. Memimpikan musim semi selalu aman karena musim semi pasti datang. Dan, jika tidak seperti yang kami bayangkan, itu akan jauh lebih indah."



View all my reviews

Jumat, 06 Januari 2012

Buku yang kubaca di 2011

Buku yang kubaca di tahun 2011
Reading challenge completed. Di tahun 2011 kemarin aku cuma menargetkan 30 buku untuk dibaca. Agak kurang puas juga sebenarnya, karena meskipun judulnya 32 buku yang berhasil selesai dibaca (107% tercapai), tapi 6 diantaranya komik Detective Conan, hehe... Yah, meskipun ke depannya pun aku tetap akan menghitung komik sebagai "buku yang kubaca" juga :P. Anyway, "lumayan"lah :p.

Sekarang, bersiap dengan Reading Challenge tahun 2012... Berapa ya targetnya...? Yang jelas, harus lebih dari 32 buku dong... ^^

Minggu, 25 Desember 2011

Petualangan Gila-tapi-keren Green Canyon

 Satu-dua-tiga hari pasca petualangan ini, aku dan teman-teman masih excited membicarakan  petualangan yang cukup gila ini di sela-sela pekerjaan kantor. Mungkin bagi sebagian orang yang sudah berpengalaman, petualangan di Green Canyon bisa jadi tidaklah "segila" itu. Tetapi mengingat aku, yang tak berpengalaman apapun dalam hal petualangan air, mendadak ikut nyemplung ke dalam derasnya arus Green Canyon, dengan kedalamannya yang belakangan kalau dipikir lagi "aku pastilah gila melakukannya!"... Belum lagi batu-batu karang yang berbahaya bagi yang belum tahu medan, serta bahaya lain yang "mengintai" di bagian air yang tenang. Masalahnya, kami semua, aku dan teman-teman, baru diberi tahu mengenai "hal-hal seram" itu setelah kami semua selesai bermain-main dengan tantangan yang ada, yang ternyata jauh lebih "seram" daripada yang kita kira... :P

Sebelumnya, pada Oktober selang 2 bulan lalu aku ikut perjalanan teman-teman Goodreads berpetualang ke situs megalith Gunung Padang, Cianjur. Tantangan yang harus ditempuh yaitu perjalanan melelahkan berjam-jam menuju lokasi yang mendaki plus kondisi jalan yang berbahaya. Setelah itu, kita masih harus mendaki 300-an anak tangga sebelum dapat menyaksikan situs peninggalan jaman megalitikum yang terletak di atas bukit. Kali ini, tantangan yang sama sekali lain aku temui ketika seminggu lalu mengunjungi Pangandaran bersama rekan-rekan sekantor dalam rangka Family Gathering. Tidak semua karyawan ikut, namun berhubung keluarga juga ikut serta (bagi yang sudah berkeluarga), total 20 bus disiapkan untuk transportasi. Berangkat tanggal 16 Desember pukul 11 malam lewat (kurasa pukul 00.00 bus baru berangkat), tersiksa oleh hawa dingin dan pegal-pegal, aku memaksakan diri untuk tidur selama perjalanan. Belakangan hal ini malah jadi bahan ledekan sengit buatku: "bisa-bisanya tidur dari awal hingga akhir dalam situasi seperti itu?" :P. Pagi tanggal 17 baru sampai. Aku dan 3 orang teman menempati satu kamar di hotel Pantai Indah Barat (we are the only girl participants in our company gathering :p). Pagi itu ngantuuukk banget (ngantuk lagi!), tidur awal-hingga-akhir di bus malah membuat sakit kepala, ditambah ga berkesempatan minum kopi, lengkap sudah ledekan buatku :D. Agak beranjak siang, kami diberi tahu teman-teman yang lain untuk bersama-sama pergi ke Green Canyon. Kami berkumpul di sebuah rumah makan, menunggu bus yang akan mengantar kesana. Kami menunggu disana sampai bosan dan kepanasan, bus tak kunjung datang. Sampai akhirnya kami kembali ke kamar hotel yang sejuk, dan zuhur terlebih dahulu. Setelah zuhur, kami diberi tahu untuk segera berkumpul lagi, rencana ke Green Canyon akhirnya jadi, dengan nyarter 2 buah angkot. Total 20 orang yang ikut (3 perempuan termasuk aku diantaranya), padahal tadinya ada lebih banyak yang ingin ikut, tapi gara-gara insiden nunggu bus itu akhirnya ada yang tak jadi.

Kekonyolan di dalam angkot tak usah disebutkan (haha :p), singkat cerita kami sampai di Green Canyon sekitar pukul setengah tiga. Kami memutuskan untuk menyewa 4 buah perahu (1 perahu max. 6 orang). Masing-masing berlima segera memilih perahu. Kelompokku ingin pelampung yang berwarna merah, jadi kami memilih perahu bercat merah bertulisan "GHAIRAH", begitupun dengan tulisan dipunggung pelampungnya, hahaha. Oh iya, sebelum sampai disana, kami semua mendapat wejangan dari bapak sopir angkot untuk tidak berkata "sompral", tidak menepuk-nepuk air selama di perahu, dan diberitahu hal-hal berbau mistik yang masih melekat di area Green Canyon.

Perahu mulai bergerak, dan berangsur-angsur kami mendapati tebing-tebing dan pepohonan yang mengelilingi sungai. Di perjalanan, Bapak Pemandu menawarkan untuk berenang begitu sampai di Green Canyon, hanya perlu membayar waktu tunggu perahu untuk satu jam. Deal, kami sepakat untuk menerima tawaran itu. Rasanya ga asyik kan kalau cuma berperahu saja, itupun perahu hanya bisa mengantar sampai karang pertama. Begitulah petualangan gila itu dimulai.

Perahu mengantar sampai karang pertama. Kami beranjak turun dari perahu menuju karang. Tetesan hujan masih lumayan sehingga membuatku kerepotan mengambil gambar pemandangan sekitar yang dikelilingi tebing menjulang. Sejak awal tak terpikirkan olehku untuk berenang dimanapun (meski ini liburan di pangandaran, yang notabene wisata air), dengan alasan tak bawa banyak bekal baju ganti dan, terutama, karena aku tak yakin bisa berenang, hehe... Kapan aku berenang dimanapun? Tak pernah! :D. Namun, kedua orang temanku yang perempuan menyatakan ikut berenang, mungkin tergiur oleh pesona petualangan di depan mata. Lagi pula, apa serunya cuma berperahu sampai sini, begitu saja? Sementara teman-teman yang lain pada seru bermain air? Dan aku? Mendengar itu kedalamannya 4 meter, spontan aku menolak ikut. Bagiku yang tak pernah berenang, itu terdengar menakutkan. Satu per satu teman-teman turun ke air, kusaksikan mereka semua dipandu oleh dua orang instruktur. Ada tali yang direntangkan dari lokasi karang ini ke karang berikutnya, dan mereka merayap dalam air berpegangan pada tali tersebut. Ketika semua orang telah turun ke air, Bapak instruktur "mengusir"ku dan seorang teman yang tak ikut berenang untuk kembali ke perahu. Begitulah peraturannya. Saat itu aku bimbang, hanya menunggu di perahu? Gak seru! Lalu, kalau pakai pelampung dan menyusuri tali, mungkin aku bisa melakukannya. Bapak instruktur mendesakku kembali ke perahu. Lalu kubilang, "tapi aku ingin ikut... susah gak Pak?" Si bapak hanya bilang, "kalau tidak yakin, sebaiknya jangan." Saat itulah aku harus segera ambil keputusan, karena si Bapak harus segera menyusul yang lain untuk lanjut mengarahkan mereka. "Baik, aku ikut... titip kamera." Kataku akhirnya. Aku sadar ini seperti keputusan gila semacam yang sering kubaca di buku atau artikel-artikel motivasi, hehe... "Kamu harus yakin dengan diri sendiri, fokus... konsentrasi mencapai tujuan, karena tantangan yang sedang diarungi ini benar-benar antara hidup dan mati". Lebay? Nggak juga... ini memang antara hidup dan mati kan? Kalau aku tak bisa menguasai diri dan hanyut, bagaimana? Kalau terbentur karang, bagaimana? Kalau tiba-tiba pelampung yang kupakai terlepas dan tenggelam, bagaimana? Ugh... benar-benar pikiran yang menyeramkan, jadi aku segera meyakinkan diri sendiri dan fokus menyusul teman-teman...


Ini pertama kalinya aku melakukan ini, berenang di kedalaman yang "katanya" 4 meter (belakangan, baru tahu bahwa ini tak sekadar 4 meter :p). Meski pakai pelampung dan menyusuri tali, aku tak tahu caranya berenang dan menyeimbangkan badan, hehe... Aku diberi instruksi seperti anak kecil yang baru belajar berenang oleh Bpk instruktur yang tampak geli... huhu, payah :p. Begitu sampai di karang selanjutnya, aku mendapat kejutan alias tantangan lain: tali berakhir disini! Padahal, untuk mencapai tempat teman-teman berkumpul di karang di depan, masih ada jarak yang harus ditempuh dengan berenang, dan arusnya juga menakutkanku. Tapi tak ada tempat untuk rasa takut (cieee...), sudah setengah jalan begini tak ada pilihan untuk kembali kecuali menyelesaikan semuanya sampai akhir. Jadi, kembali meyakinkan diri, dibantu Bapak instruktur, aku mulai bergerak meski kesulitan karena selain belum mahir, arus air senantiasa mencoba menghanyutkanku dan menggoyahkan keseimbanganku (setelahnya pun aku sering kesulitan melawan arus, konsekuensi berpostur kecil: dibilang aku bukan berenang, tapi melayang :p). Meski alon asal klakon, akhirnya aku sampai juga ke karang tempat teman-teman menunggu, disambut sorak-sorai pula, halah.

Dari sini petualangan dilanjutkan. Kadang pakai tali, kadang tidak. Kadang berenang, kadang menyusuri tebing-tebing karang di pinggir. Semuanya patuh mengikuti arahan instruktur, mengingat betapa berbahayanya medan (dilarang sok jago disini! Meski pandai berenang, tapi kau tak tahu posisi karang ada dimana). Bagiku sendiri, semuanya terasa lebih mudah (mudah?) setelah bergabung bersama teman-teman. Bukan medannya yang lebih mudah, mungkin lebih ke arah mudah secara emosional kali ya, mengingat kali ini aku melakukannya bersama-sama dengan yang lain dan tinggal mengikuti, plus sudah menjadi lebih terbiasa dengan medan dibanding pertama kali. Ada saat ketika kami harus menyusuri pinggiran tebing, ini terasa seperti sedang panjat tebing, tak begitu mudah juga medannya. Benar-benar harus berhati-hati, pegangan erat dan menapak pada ceruk-ceruk tebing. Kadang, karang yang kita panjatpun agak runcing, lumayan ga nyaman di kaki :D. 

Klimaksnya, kami sampai di area berarus lebih deras daripada sebelumnya, sementara kami berada dipinggirannya di atas tonjolan tebing. Dari sini, kami akan menyudahi petualangan dan kembali ke karang pertama tempat semula perahu menunggu. Caranya adalah dengan menghanyutkan diri dibawa arus yang mengalir ke arah tempat kita semula datang. Di sini ada yang memilih untuk terjun dari tempat yang lebih tinggi ke dalam arus, ada juga yang cukup loncat saja dari tebing terendah seperti kami yang perempuan, ada juga yang bertugas mengawal kami hanyut.

Sampai ke tempat perahu menunggu, kami foto-foto terlebih dahulu (cuma bisa foto diarea ini :'(, tak mungkin membawa kamera sambil berpetualang seperti tadi :p). Itupun, hasilnya tak ada yang bagus. Entah kenapa, foto-foto yang diambil di area ini selalu hasilnya buram (membandingkan dari beberapa kamera), wajah-wajah sebagian besar terdistorsi, tak jelas, minimal matanya menyala (mata kucing). Yah, ini masih misterius, tapi siapa tahu ada penjelasan ilmiahnya? Padahal foto-foto sebelum mencapai area inimah baik-baik saja. Di sini, instruktur masih menawarkan apakah hendak lanjut berenang sampai jarak tertentu sekeluarnya dari Green Canyon? Aku sudah kedinginan dan lelah, jadi naik perahu saja. Sebagian ada juga yang masih mau berenang sebelum akhirnya dijemput perahu. 

Guess what? Setelah itu semua, Bapak instruktur baru memberi tahu bahwa di air yang tenang itu, area yang diarungi perahu, adalah tempat yang dihuni buaya. Walaahhh... Kalau tahu begitu, kukira ga ada satupun yang akan mau lanjut berenang sekeluarnya dari Green Canyon :P. Bapak instrukturnya juga ngapain pake nawarin lanjut berenang segala kalau tahu ada buayanya? weleh-weleh... Buaya, itu juga yang menjadi alasan kenapa kita tak boleh menepuk-nepuk air selama berperahu, karena buaya tertarik pada getaran vertikal...

Begitulah petualangan gila nan seru di Green Canyon alias Cukang Taneuh yang ada di daerah Cijulang. Kalau tak nyarter angkot, angkot dari Pangandaran ke sana hanya sampai Terminal Cijulang, setelah itu naik ojek untuk sampai kesana. Kira-kira 1-2 jam perjalanan. Kala itu, air sedang naik. Aku tak tahu pasti berapa kedalaman yang sebenarnya, yang jelas ada yang mendengar saat kami bermain-main disitu, kedalamannya sekitar 7-8 meter... gedubrak! Bukan 4 meter ya rupanya :P. Benar-benar gila. Ada lagi informasi lain yang baru kami dengar dari instruktur setelah selesai berpetualang: Kenapa berenang disana harus dipandu instruktur? Karena banyak yang meninggal disana! Misalnya karena jatuh dari tebing atau membentur karang. Ada yang sok jago, tapi berakhir tragis juga karena tak tahu posisi karang, misalnya. Wah, seram benar... Ketika ditanya kenapa tak memberitahu ini semua sebelumnya, instruktur hanya menjawab, "Kalau dikasih tahu sejak awal, nanti pada ga mau berenang..." Halah...

Pokoknya aku sangat bersyukur dapat mencicipi petualangan seru ini, serta Alhamdulillah dapat melalui semuanya dengan selamat. Aku hanya mendapat pegal-pegal setelahnya dan bekas biru-ungu di lutut, mungkin didapat saat terpeleset ketika menuruni tebing, atau tak sadar terbentur karang? Entahlah, tak bisa bilang. Terlepas dari berbagai keseraman itu, wisata di Green Canyon ini benar-benar memuaskan, meskipun kami tak sampai terus ke guanya. Biaya 60 ribu/orang sudah puas banget mencakup semuanya (carter angkot, perahu, & berenang lebih dari 1 jam kenyataannya, hehe, dipandu pula). Tentu saja ini memerlukan juru tawar-menawar yang lihai :D. Wisata di Green Canyon paling mengesankan kukira, meski sebenarnya memang tak banyak tempat yang kukunjungi kali ini. Setelah makan malam di acara gathering malam harinya, aku menyusuri pertokoan berburu oleh-oleh. Esoknya baru main ke Pasir Putih. Waktu yang singkat, siangnya sudah perjalanan pulang lagi ke Bandung...