Selasa, 24 November 2009

Membaca Makna dari Kisah “All Those Things We Never Said”

All Those Things We Never Said All Those Things We Never Said by Marc Lévy


My rating: 3 of 5 stars
Bayangkan bagaimana rasanya jika kita dikejutkan dengan sebuah paket besar berisi seseorang yang kita tahu betul dia baru saja meninggal. “Orang” itu bukan hantu, melainkan semacam robot manusia yang sengaja diciptakan untuk memberi “kesempatan waktu kebersamaan” sedikit lebih lama dengan orang terdekat yang ditinggalkannya. Hm, tak terbayang, bukan? Tapi, ide nyeleneh itu tampaknya hinggap juga di imajinasi penulis “All Those Things We Never Said”, Marc Levy. Bagi seorang penulis fiksi, hal-hal semacam itu selalu menjadi mungkin. Dan melalui itu, penulis leluasa menyampaikan “hal-hal yang ingin disampaikan” kepada pembaca.

Dalam All Those Things We Never Said, situasi Julia Walsh bahkan lebih kompleks daripada sekedar dikejutkan oleh paket berisi manusia android yang berupa sosok ayahnya, Anthony Walsh. Julia bahkan ragu apakah dia menginginkan ”sedikit waktu tambahan” bersama ayahnya. Semua yang bisa dipikirkan Julia selain kaget dan tak percaya ialah bahwa ia begitu benci terhadap ayahnya, ayahnya sungguh keterlaluan. Julia sudah cukup benci terhadap ayahnya atas perlakuannya ketika masih hidup. Ayahnya tak pernah mempedulikan dirinya. Julia di masa kecilnya harus merasakan kerinduan akan ayahnya, yang kemudian mengecewakannya. Anthony terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan ketika Julia kecil harus merawat ibunya yang sakit dan kehilangan ingatan, lalu meninggal. Julia tumbuh menjadi seorang wanita mandiri yang lepas dari ayahnya. Sejak kabur dari rumahnya yang penuh kenangan, Julia hidup atas jerih payahnya sendiri. Bagi Julia, terlalu banyak daftar kesalahan ayahnya yang tampaknya selalu menghancurkan kebahagiaannya. Kini, setelah Julia dewasa hidup di dunianya sendiri, lagi-lagi ayahnya membuat kekacauan. Tepat 3 hari sebelum pernikahannya dengan Adam, tiba-tiba ayahnya meninggal. Julia tak habis pikir, bahkan saat meninggalpun ayahnya terus saja mengacaukan hidupnya. Ditambah lagi tak lama setelah itu ia dikejutkan dengan paket berisi manusia android yang amat mirip dengan ayahnya itu... Anthony sungguh membuatnya benar-benar stress...

Situasi Julia setelahnya bahkan lebih rumit lagi. Ia harus menyembunyikan keberadaan ”ayahnya” di apartemennya itu. Apa kemauan ayahnya? Menurut ”ayahnya” alias manusia android itu, ia sengaja diciptakan untuk menyampaikan banyak hal yang harus diketahui oleh Julia. Untuk itu Julia harus mau melakukan perjalanan jauh ke berbagai tempat bersama ”ayahnya” itu. ”Ayahnya” itu hanya punya waktu 6 hari.

Ide cerita novel ini memang menarik. Pembaca dibuat menyelami perasaan Julia yang marah, kesal, juga bingung gara-gara ayahnya. Menyimak novel ini kita dibuat sama herannya dengan Julia, semua tampak seolah-olah apa yang dialami Julia memang terjadi atas skenario ayahnya. Akan tetapi, untuk sampai pada terkuaknya ”maksud” ayah Julia, pembaca harus bersabar menelusuri alur novel ini. Sebab, diantara kehebohan perjalanan Julia dan ayahnya, kita diajak flash-back menyimak masa lalu Julia saat mengadakan perjalanan ke Jerman dan bertemu dengan cinta pertamanya. Masa lalu itu diceritakan cukup panjang beserta detil-detil setting masa robohnya tembok Berlin. Lagi-lagi, flash-back itupun tampaknya memang bagian dari rencana Anthony yang belakangan ternyata memang sengaja mendekatkan Julia dengan cerita cinta masa lalunya, yang juga kacau dan menyisakan kenangan pahit gara-gara ulah ayahnya.

Meski alurnya terasa agak lambat, berkat ide ceritanya yang unik novel ini sukses mempertahankan ’misteri’nya hingga akhir. Pada akhirnya, setelah tuntas membaca novel ini hingga akhir, tak peduli meski ada sedikit bagian yang menimbulkan ’tanda tanya’ menggantung di benak, kita dapat memetik makna dari skenario unik seorang ayah atas kehidupan putrinya ini. Seperti tersirat dari judulnya, ”All Those Things We Never Said”, kita seolah teringatkan akan hal-hal yang tak pernah kita katakan (padahal perlu kita ungkapkan) kepada orang-orang yang kita sayangi.

Yang menarik dari All Those Things We Never Said, pesan moralnya lebih dari itu. Melalui perjalanan ayah-anak yang agak ganjil itu, kita akhirnya menemukan sebuah ungkapan rasa sayang seorang ayah yang meski tak dikatakan, namun begitu nyata diungkapkan dalam bentuk tindakan. Lebih jauh lagi, kita teringatkan akan suatu kenyataan paradoks yang tersirat dari kisah Julia dan ayahnya ini: selama bertahun-tahun Anthony membiarkan anaknya berpikir bahwa dia tak ingin melihatnya bahagia. Selama itu tak ada tindakan apapun untuk memperbaiki hubungan itu. Lalu, baru setelah tersisa sedikit waktu untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, Anthony baru menunjukkan besarnya kasih sayang yang terpendam itu. Anthony masih beruntung memiliki ”kesempatan kedua”. Bagaimana jika kesempatan itu tak ada?

Hal menarik lainnya adalah ide ”kesempatan kedua” seperti yang diceritakan oleh manusia android replika Anthony Walsh di awal. Menurutnya, dirinya adalah produk berteknologi tinggi yang sengaja dirancang dan diciptakan untuk melakukan hal-hal yang ingin dilakukan oleh seseorang pada ”kesempatan kedua”. Jadi, setelah orang itu meninggal, keluarganya mendapat kesempatan tambahan beberapa hari untuk menghabiskan waktu bersama manusia duplikat almarhum. Dan almarhum sendiri telah merancang hal-hal yang ingin dikatakan ataupun dilakukan oleh replika dirinya itu bagi orang-orang terdekatnya. Betapapun juga, dengan alasan etika kemanusiaan, masa aktif baterai produk itu hanya beberapa hari. Orang tak bisa terus-menerus hidup bersama bayangan masa lalu; orang harus tetap menghadapi kenyataan yang sebenarnya... Hm, ide yang gila... Pernyataan tersebut seolah menguatkan pesan moral yang tersirat dari judul “All Those Things We Never Said” itu sendiri: ide gila itu seakan memunculkan pertanyaan dari akal sehat kita, ”Kenapa begitu repot, kenapa tak pergunakan saja kesempatan kita selagi hidup untuk melakukan dan mengatakan hal-hal yang perlu diungkapkan itu?”

So, ungkapkanlah selagi ada kesempatan... 

View all my reviews >>

---
Renungan yang bagus bagi orang-orang seperti aku, tipikal orang yang agak sulit mengungkapkan hal-hal yang semestinya diungkapkan kepada orang-orang yang disayangi ^^’.
Baca selengkapnya..

Minggu, 22 November 2009

Negeri Van Oranje

Negeri van Oranje Negeri van Oranje by Wahyuningrat


My rating: 3 of 5 stars
Satu lagi karya populer terbitan Bentang Pustaka yang tampaknya cukup sukses di pasaran dan mengalami cetak ulang dalam tempo singkat. Kuperhatikan, kerja marketingnya memang bagus, dan seperti halnya karya-karya terdahulu yang booming (sebutlah contoh yang familiar: Laskar pelangi), kerja marketing yang “keren” dan kreatif telah membuktikan peran besarnya dalam mengantarkan sebuah buku menuju “best seller”. Dari segi konten, novel ber-cover oranye ini menyuguhkan sebuah kisah persahabatan yang disajikan dengan ringan, renyah, dan kocak. Yang menjadikannya agak unik ialah pengemasan isinya yang berupa perpaduan antara cerita novel dengan traveling tips. Lebih jelasnya, kisah yang diramu di Negeri Van Oranje adalah kisah persahabatan 5 orang mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Belanda. Karenanya, novel ini juga begitu banyak bercerita tentang Negeri Kincir Angin tersebut. Mulai dari tempat-tempat, bangunan, festival tahunan, budaya, hingga seluk-beluk menuntut ilmu di sana. Tak hanya itu, diantara jalinan ceritanya disana-sini diselipkan berbagai tips bertahan hidup di negeri asing tersebut, khususnya bagi pelajar Indonesia yang hendak menuntut ilmu disana. Jadi, tergantung dari sudut pandang mana melihatnya, buku ini bisa disebut novel ataupun traveling guide.

Tak masalah lebih suka memandangnya sebagai apa. Karena sebenarnya, menurut salah seorang penulisnya sendiri, buku yang ditulis keroyokan oleh 4 orang alumni Belanda ini memang dimaksudkan untuk memberikan informasi yang perlu diketahui oleh mereka yang ingin studi di luar negeri, khususnya Belanda, namun disajikan dengan gaya yang menyenangkan agar tak membosankan. Dan novel rupanya menjadi pilihan untuk menyampaikan itu. Justru disitulah menariknya. Jalan ceritapun sudah sewajarnya diramu sedemikian rupa agar sinkron dengan berbagai informasi yang ingin disampaikan, termasuk nyambung dengan tips-tips yang diselipkan. Maka tak heran jika isi cerita banyak didominasi dengan acara jalan-jalan dan mengunjungi tempat ini-itu . Membayangkan bagaimana proses kreatif penulisan novel ini, dengan ide dari 4 kepala yang berbeda... hmmm... seperti apa ya....

Bagiku pribadi, muatan ceritanya sendiri tak begitu ”wah” ataupun unik. Meski begitu, gaya bahasanya yang luwes mengalir dan kocak membuat novel ini enak dinikmati. Bahkan agak ekstrimnya, bagiku inti ceritanya (maaf) agak sedikit ’klise’. Aku baru mengatakan begitu setelah tuntas membacanya, karena tetap saja ada sisi unik yang membuat ceritanya menarik untuk tuntas dibaca. Jika melihat dari inti ceritanya saja, ini hanyalah sebuah cerita persahabatan 4 orang cowok dan 1 orang cewek yang kemudian karena cinta, membuat persahabatan mereka merenggang. Tapi tentu tak cuma itu, karena setelah jadi sebuah buku, menyimak petualangan 5 sahabat dengan karakter dan latar belakangnya yang berbeda ditambah bumbu kocak plus bonus berbagai informasi dan tips seputar Belanda tentunya rasanya menjadi lain. Apalagi dengan sentuhan karakter masing-masing tokoh yang unik: Daus anak Betawi yang kocak dan polos, Wicak anak Banten pecinta alam dan lingkungan yang cuek, Banjar yang rajin dan sifatnya agak keras, Lintang cewek yang periang dan lugu, serta Geri cowok ganteng tajir yang bijak dan agak misterius. Kelima orang ini dipertemukan dalam sebuah suasana badai di stasiun Amersfort hingga kemudian terjalin persahabatan yang mereka namai AAGABAN (Aliansi Amersfort Gara-gara Badai di Netherlands).

Ada hal lain dari buku ini yang juga patut diberi apresiasi. Dibalik kisahnya yang ringan dan kocak, terselip renungan moral tentang rasa nasionalisme yang tersirat dari masing-masing karakter tokohnya. Kita juga bisa menemukan kritik atas kondisi carut-marutnya birokrasi pemerintahan kita, moral para pejabat yang tak amanah, hingga ilegal logging di hutan-hutan kita. Kita bisa temukan jawaban pertanyaan ”apa yang telah kau lakukan untuk bangsa ini?” di diri para tokoh dengan bentuk pengabdian dan idealisme dirinya masing-masing.

View all my reviews >> Baca selengkapnya..

Kamis, 19 November 2009

Don’t Wanna Say Goodbye to Those Things

Tibalah saat (untuk kesekian kalinya) pindahan kost. Buku dan kertas-kertas adalah agenda pertama packing yang kulakukan terlebih dahulu. Pertama, buku-buku dan kertas-kertas kuliah yang begitu menumpuk. Selalu saja dilema, harus kuapakan? Dibuang ogah, disimpan pun berabe, berat dibawa pindah-pindah dan aku belum punya gudang. Tapi seperti biasa, berat rasanya membuang ”ilmu” begitu saja. Jadi, kukemas semuanya tak hanya buku-buku tebal dan supertebal, tapi juga semua kertas bahan-bahan belajarku selama kuliah yang bejibun itu. Ternyata, meski tersadar dengan konsekuensi repotnya mengangkuti semua itu, aku masih saja tak tega mengucap selamat tinggal terhadap mereka. Aku hanya tega membuang bereksemplar-eksemplar skripsi mentahku sembari mengingat betapa mahalnya biaya menghasilkan ”sampah-sampah” itu.

Kedua, tiba giliran packing buku lain-lain diluar buku kuliah. Untuk yang ini tidak ada dilema sama sekali, seperti sudah terpatri di benakku, semua buku yang kubeli adalah harta yang selanjutnya akan selalu kumiliki. Meski mungkin harus seperti ini, kerepotan mengangkutnya saat pindah, sampai nanti kubawa pulang dan pada saatnya kusimpan mereka dengan lega di sebuah perpustakaan impian. Tanpa harus pilih-pilih, packing buku-buku segera selesai.



Ketiga, aku punya setumpuk koran yang kubeli tiap weekend. Teman mengusulkanku menukarkan semuanya bersama kertas-kertas lain ke tukang rongsok. Oh, aku tak secepat itu menyetujuinya. Tapi, lebih repot lagi jika tumpukan koran itu harus masuk daftar packing barang yang harus diangkut juga. Uhhh... ada alasan kenapa aku menyimpan mereka dengan rapi setelah selesai dibaca. Terlebih lagi adalah alasan kenapa aku membelinya rutin tiap minggu. Jadi kuputuskan jalan tengah, aku pilah-pilah dulu rubrik-rubrik tertentu yang sayang untuk kubuang dan akan tetap kusimpan, baru kemudian sisanya kurelakan. Dan aku benar-benar melakukannya! Selama dua hari ini kamarku bergelimpang koran. Dengan sabar (dan niat banget ^^) kupilah tulisan-tulisan yang ku tak tega ucapkan selamat tinggal padanya, dan mengumpulkannya dengan rapi untuk kukemas nantinya. Saat melakukan ini, aku terlibat dalam sebuah suasana yang membuatku berdialog diri, dan semua ini memaksaku melihat kedalam benakku bahwa akhir-akhir ini aku tengah menjauh dari hal-hal yang selama ini senantiasa membuatku ”lebih hidup”.

Dan apa hal-hal yang membuat orang lebih ”hidup”? Tentu setiap orang memiliki selera dan minat tersendiri akan hal-hal yang memang dunianya, yang ketika ada didalamnya dia merasa senang dan lebih bersemangat. Yang jelas orang akan merasa lebih hidup ketika dia berkarya dalam bidang yang disenanginya dan bermanfaat. Dalam konteks yang lebih sederhana, orang merasa lebih hidup ketika ia tahu apa yang ia mau dan menjadi dirinya sendiri, belajar dan berkarya di dunia yang diminatinya.

Situasiku simpel saja. Aku tengah menjauh dari hal-hal simpel yang bermanfaat dalam keseharianku. Terkait packing koran itu, aku teringatkan bahwa akhir-akhir ini tak ada aktivitas baca buku, tak ada aktivitas menulis lagi, dan aku selalu absen di kajian dan diskusi komunitasku. Padahal kutahu hari-hariku akan lebih baik dengan semua itu, meski mungkin bagi sebagian orang hal-hal yang kusebutkan itu adalah hal-hal remeh-temeh. Setelah kuingat-ingat, akhir-akhir ini porsiku membaca jauh kalah ketimbang porsi nonton film. Waduh... Meski film juga bisa positif, tapi baca-tulis lebih utama bagiku. Dan aku bahkan tak membaca koran-koran minggu seperti biasanya. Tak juga ebook yang kemarin-kemarin intens kubaca dan pelajari.

Jadi begitulah, melalui suasana kamar penuh koran itu, sambil dengan rajinnya memilah tulisan ditemani musik, aku sampai pada hal-hal yang ternyata benar-benar minatku. Aku menemukan bahwa aku dengan sigap menyelamatkan tulisan dengan topik-topik tertentu. Cerpen dan puisi, tentu aku selamatkan karena untuk itulah aku rajin beli koran minggu. Dari Kompas kusisihkan rubrik seni. Cerpen, puisi, dan tulisan bertema seni ada di dalamnya. Dari Pikiran Rakyat aku selamatkan lembar Khazanah, didalamnya ada cerpen, puisi, dan esai-esai sastra dan budaya. Dari Tempo aku selamatkan rubrik sastra (cerpen dan puisi). Selain itu, dari Tempo aku juga menyisihkan lembar Ruang Baca, didalamnya banyak esai tentang dunia perbukuan dan literasi. Aku juga menyelamatkan rubrik Ide yang berisi esai opini dengan tema beragam, serta rubrik review buku, namun tidak semuanya. Aku mendapati bahwa aku hanya tak tega membuang review buku dan esai opini bertema sastra, pengetahuan, sains dan teknologi, serta sebagian tema agama dan filsafat. Di luar itu, ternyata aku merelakan tema-tema lain, termasuk ekonomi dan politik ^^. Jadi begitu rupanya. Di tema-tema itulah minatku berada. Dan aku tak mau mengucapkan selamat tinggal kepada mereka.
Baca selengkapnya..

Kamis, 01 Oktober 2009

Syahadat



Tidakkah kita terlalu banyak berpesta?
Merayakan pengakuan yang ramai umpama bebutir pasir pantai
Yang mengimani laut?
Kita berseru pada angin, pada ombak, pada karang, pada
Nyiur, bahkan ikan-ikan yang menyelami sendiri ke kedalaman
Melafazkan ayat-ayat kesetiaan
Lantas kita kerap disentuh tangan-tangan ombak
Tapi lekas mengering lagi,
Sebab mengakrabi panas mentari dan harapan pada angin
Tuk menjauh

Ini pesta debu-debu
Yang berkelana tak tentu arah kemana angin bertiup
Lafaz-lafaz berhamburan kemanapun tempat hinggap tanpa tersingkap
Kepada siapa sebenarnya setia bermuara?

Tapi debu, mana tahu

*10 September 2009 Baca selengkapnya..

Jumat, 11 September 2009

Sahur..., Ifthar...


Sahur

Nawaitu shouma ghodin
Ada yang merobek malam dari lelapnya
Oleh bebunyi kentongan, kerotak wajan dan penggorengan
Piring sendok garpu beradu
Berdecap mengunyah keheningan yang bisu

Nawaitu shouma ghodin
Ada yang merobek malam dari lelapnya
Oleh bebunyi percikan air pancuran
Mimpi-mimpi kosong luruh bersama tetesan wudhu
Sajadah terhampar, geletar bibir mengeja keramaian langit yang tak menutup pintu

Nawaitu shouma ghodin
Ada yang membunuh waktu
Nawaitu shouma ghodin
Ada yang menziarahi waktu

:Aku berniat shaum esok hari

*

Ifthar

Adakah semangkuk fitrah terhidang,
Setelah seharian tubuh ini ditirai perisai
Hingga azan maghrib terdengar merdu dan rindu
Kepada yang memulas senja hingga bersemu manis serupa madu?

*

Bandung, 20 Ramadhan 1430 H Baca selengkapnya..

Senin, 31 Agustus 2009

Sepotong Cerita Kita



Barangkali mentari senang tersenyum di wajahmu.
Dan redup bintang senang berkedip dibalik jaketku.
Tapi aku masih bisa menemuimu di sela senja yang abu-abu.
Kita pun bertemu dan saling membisu.
Secangkir-dua cangkir kesenangan tak sempat kuhirup dari jam-jam bersamamu
Sebab kau asyik sendiri bersama debu-debu yang hinggap di meja dan bangku kayu
Lalu kau beranjak tanpa kata. Seulas senyum kulempar pada cangkirmu yang kosong tanpa sisa.
Saat kudengar derap langkahmu menjauh di belakangku, aku berkata,
”Pulanglah”. Telah kuikat salamku di tali sepatumu.

Kau tak tahu, sepotong cerita
Telah kucuri dari saku kemejamu


*28 Agustus 2009 Baca selengkapnya..

Sabtu, 29 Agustus 2009

Sound of Loneliness




Malam merayapi hening
Lalu senyap menjelma dirimu
Aroma dingin menyesaki tubuhku
Resah tumpah
Aku kuyup dalam gigilku
Hingga aku pecah
menjadi kepingan puisi
Denting lagumu tak jua mengalun

*28 Agustus 2009 Baca selengkapnya..