Selasa, 18 Agustus 2015

Aneka Rasa Kulineran di Cawan Kitchen

Lama tinggal di Bandung, terbilang jarang aku lewat atau main ke kawasan Jl. Ciumbuleuit. Setelah berganti angkot di pertigaan Siliwangi-Cihampelas-Ciumbuleuit, memasuki Jl. Ciumbuleuit mataku tak lepas memperhatikan kanan-kiri jalan, mencari-cari yang namanya "Cawan Kitchen". Tanpa banyak kesulitan, segera saja aku menemukannya. Terletak tak jauh dari seberang Hotel Haris, dekat Marta Tilaar, berdiri bangunan cafe bercat putih bertuliskan Cawan Kitchen di atasnya. Minggu sore itu aku janji bertemu kawan-kawan Blogger Bandung untuk sillaturrahim dan kumpul-kumpul di Cawan Kitchen yang berlokasi di Jl. Ciumbuleuit no. 85.
Cawan Kitchen
Saat tiba disana, rupanya aku termasuk yang datang awal. Sambil menunggu kawan-kawan lain berdatangan, aku menikmati sore yang cerah bersemilir angin sembari duduk-duduk di berandanya. Suasananya asyik juga ternyata. Di pelataran depan Cawan Kitchen yang baru buka awal Agustus lalu ini terdapat kursi-meja dengan dekorasi kaktus kecil dalam pot mini. Bersebelahan dengan pintu masuk, jendela kaca besar bertuliskan Shaffron menampilkan sekilas peralatan dapur dan staf yang bekerja di dalamnya. Masuk ke dalam cafe, aku disambut pemandangan interior bernuansa putih klasik, dengan meja dan kursi yang juga putih, lampu-lampu berpendarkan cahaya kekuningan, serta aneka ornamen hijau tanaman dalam pot. Selain ornamen tanaman, foto-foto hitam-putih bernuansa jadul menghiasi dinding putihnya, menambahkan kesan klasik. Rupanya dekorasi ornamen ruangan dibuat sedemikian rupa untuk menampilkan kesan homy bagi para pengunjungnya.

Kamis, 06 Agustus 2015

Eksperimen Rasa Ala Kedai Kecil

Dipati Ukur merupakan salah satu dari banyak area di Kota Bandung yang ramai oleh aneka tempat kulinerannya. Berbagai jenis warung makan dan cafe senantiasa ramai, apalagi di malam hari. Kalau jalan-jalan di Dipati Ukur, mataku tak bosan-bosannya suka disapa oleh pemandangan aneka tempat makan yang ada. Tempatnya yang dekat dengan kampus dan daerah kos-kosan mahasiswa membuat kulineran di sekitar Dipati Ukur (DU) sebagian besar masih terbilang terjangkau alias ramah di kantong. Nah, ngomongin tempat makan di DU, baru-baru ini aku bersama beberapa teman Blogger BDG berkunjung ke salah satu cafe yang terbilang baru disana. Baru ada sekitar 3 bulanan sejak dibuka pada Juni 2015 lalu. Kedai Kecil namanya. Nama yang bersahaja. Siapa sangka, dibalik nama yang bersahaja itu Kedai Kecil ternyata menyimpan menu-menu dengan racikan rasa yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Kedai Kecil (dokpri)
Kedai Kecil bertempat di Jl. Dipati ukur No. 36. Letaknya dekat dari Taman Gesit dan Rabbani DU. Sesuai namanya, tempatnya tak begitu luas, menempati garasi depan sebuah rumah dengan meja-kursi kayu yang ditata berderet memanjang. Kalau lewat atau berkunjung kesana, tulisan mural "Kedai Kecil" di dinding bata bercat kuningnya menjadi pemandangan mencolok yang menyita perhatian. Di sebelahnya berupa tempat pemesanan serta tempat sajian makanan dan minuman orderan diracik. Tempatnya bernuansa cerah dengan dinding bercat putih dan lampu-lampu yang terang pada malam hari. Berkapasitas sekitar 40-50 orang, Kedai Kecil ini menawarkan tempat ngumpul yang asyik sambil makan-makan.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Nostalgia Era 80-an & 90-an di Launching Buku Dilan 2 Karya Pidi Baiq

Lihat-lihat di timeline Twitter, Penerbit Mizan beberapa kali woro-woro tentang launching buku Dilan 2 karya Pidi Baiq di Jakarta yang dijadwalkan pada 2 Agustus ini. Kalau di Bandung acara launchingnya sudah dilakukan pada 10 Juli 2015 lalu semasih bulan Ramadhan. Aku yang senang sama event seputar perbukuan antusias hadir pada acara yang dilangsungkan di Rumah The Panas Dalam di Jl. Ambon no. 8 itu.

Saat menuju lokasi acara, sore itu aku sedang gundah. Pasalnya, hari itu aku mengalami musibah hilang dompet :'(. Berbekal kantong kosong dan mengandalkan pinjam, pikiranku tak karuan. Setiba di lokasi acara, banyak sudah para fans muda Dilan berkumpul di area depan panggung. Wah, popularitas novel Dilan karya Pidi Baiq ini memang tinggi. Sebelumnya sempat kudengar bahwa kehadiran novel Dilan 2 ini sudah ditunggu-tunggu oleh penggemarnya. Dan acara yang "katanya" launching novel itu kenyataannya benar-benar berbeda dari yang biasanya aku datangi. Aku tahu sedikit kalau Pidi Baiq yang akrab disapa Ayah Surayah itu nyentrik dan kocak. Tapi ternyata tingkat eksentriknya itu melampaui dugaanku.

Jumat, 31 Juli 2015

Film Comic 8: Kasino Kings Part 1


Film yang tayang sejak 15 Juli 2015 ini begitu ngehits. Kabar terbaru yang kubaca, setelah sukses meraih 1 juta penonton dalam 2 minggu penayangan, kini film ini masuk box office Indonesia 2015. Film macam apakah gerangan yang sukses menyedot perhatian para penonton ini? Kebetulan saya sudah menonton film ini, dapat undangan nobar bersama Blogger Bandung dari Indosat pada gala premiernya di bioskop 21 BIP. Film yang dibintangi 8 orang stand up comedian ini merupakan sekuel dari film pendahulunya, Comic 8 (2014). Jangan khawatir yang belum nonton film pendahulunya (kayak aku juga belum :D), ceritanya tetap bisa diikuti, apalagi kaitan dengan kisah perampokan Bank INI yang ada di film Comic 8 ditampilkan sedikit kilasannya.

Film Comic 8: Kasino Kings Part 1 dibuka dengan adegan misterius yang menarik. Bersetting hutan, ada koper tiba-tiba turun dari langit. Lebih mengherankan lagi, dari dalam koper keluarlah orang. Begitu pula dengan tong dan jaring penangkap, satu per satu para stand up comedian muncul seperti habis kena jebakan. Adegan selanjutnya makin mengejutkan dengan kemunculan banyak buaya dari sungai di hutan itu. Buaya-buaya ganas itu mengejar mereka dan memangsa siapa saja yang berada dalam jangkauan. Adegan ini berlangsung cepat dan cukup berdarah-darah. Tapi ini jelas bukan film thriller maupun horor. Dalam situasi antara hidup dan mati itu, penonton dibuat tertawa dengan tingkah para stand up comedian yang ada-ada saja aksinya menghadapi buaya dan sempat-sempatnya melempar percakapan mengundang tawa. Aku yang nonton jadi serba salah antara ngeri dan pengen ketawa. "Duh, ini film apaan ya?" Benakku terus bertanya karena adegan pembuka yang heboh itu ditampilkan dengan efek visual yang cukup bagus dan terlihat nyata.

Kamis, 30 Juli 2015

Film Mencari Hilal, Membingkai Keberagaman dalam Keberagamaan

poster source: twitter Mencari Hilal
Perbedaan. Kata tersebut begitu dekat di keseharian, terutama ketika dikaitkan dengan kamus kehidupan ala Indonesia. Jangankan bicara Nusantara yang kaya akan keberagaman, menilik lingkup kehidupan yang lebih kecil seperti sebuah keluarga saja perbedaan itu senantiasa ada, antar personal meski lahir dari genetik yang sama. Perbedaan-perbedaan yang ada ini menjadi sebuah tema besar yang diangkat dalam film Indonesia berjudul Mencari Hilal. Berawal dari perbedaan pendapat antara ayah-anak dalam satu keluarga, lalu perbedaan & perdebatan opini dalam lingkup sosial masyarakat sekitar, hingga perbedaan-perbedaan yang lebih besar lingkupnya. Semakin jauh kita dibawa dalam perjalanan tokoh utama, semakin luas bumi Nusantara yang dilihatnya, semakin kaya kita dibawa pada keberagaman itu.

Adalah Mahmud (Deddy Sutomo), seorang ayah yang sudah beranjak tua yang digambarkan berkarakter saklek dan cenderung konservatif, taat beragama dan tak segan mendakwahi siapa saja yang ditemuinya tidak sesuai dengan ketentuan agama. Berprofesi sebagai pedagang, ia teguh berprinsip menjalankan bisnisnya sebagai ibadah. Banyak pesaingnya memprotesnya karena harga yang ia tawarkan di bawah pasaran. Terlibat perdebatan, pada suatu titik pembicaraan berapi-api tentang ekonomi dan agama, Mahmud tertegun pada suatu informasi yang ditumpahkan di antar kemarahan lawan bicaranya. Tentang sidang isbat para ulama yang memakan biaya hingga 9 Milyar. Informasi ini begitu mengganggunya hingga ia coba diskusikan dengan temannya. Ia teringat kenangan akan tradisi saat nyantri di pesantren, yakni melakukan kirab bersama-sama untuk melihat hilal secara langsung. Terbetiklah sebuah keinginan kuat untuk napak tilas mencari hilal.

Senin, 06 Juli 2015

Basreng BDG: Hitam Norak Bergembira Bersama-sama

Nongkrong Bareng Blogger Bandung & Kaos Gurita (credit: Kaos Gurita)
Hitam-hitam, norak-norak, bergembira, bersama-sama...
Apakah itu?

Jawabannya adalah Basreng. Iya, Basreng Bandung. Tapi Basreng yang ini bukan bakso goreng, melainkan acara seru Buka Bareng Blogger Bandung & Kaos Gurita, kaos keren yang bisa ngomong itu. Momen buka puasa di Piset Square Mall jadi ramai oleh oleh 28 orang blogger Bandung yang turut hadir di acara ini. Rame dong? Banget! Apalagi pake tema kebersamaan dan embel-embel norak segala :D. Ketika kenorakan melebur dengan kebersamaan, bagaimanakah jadinya? Acara Basreng ini punya jawabannya, dan mengungkapkan kepada dunia bahwa blogger BDG yang kirain kalem-kalem itu ternyata... Norak semua! Hihi... Kalau noraknya sendirian mah malu meureun... Begitu noraknya dilaksanakan berjamaah, apalagi dilombakan segala, orang bilang apa takkan peduli, yang penting hepiii... :D

Rabu, 03 Juni 2015

3 Buku Memoar Perjalanan Agustinus Wibowo [WW #18]

Wishful Wednesday
Oh, my God...! 2 minggu ini banyak sekali judul-judul buku yang membayang menari-nari di benak, inginnya dimiliki dan dibaca. Ini gara-gara kemarin-kemarin aku sempat main ke kawasan Jl. Merdeka, kebetulan ada 2 agenda #BloggerBDG yang berdekatan tempatnya sama-sama di sekitar sana. Tepatnya gara-gara aku gak bisa menahan diri untuk tidak "lihat-lihat" ke suatu tempat yang seperti magnet untuk dimampiri kalau aku kesana. Gramedia Merdeka. Itu dia. Kebetulan perlu juga sih mampir kesana dalam rangka mencari sebuah judul buku yang ingin kuhadiahkan untuk kado ulang tahun adikku akhir Mei lalu. Dan hari ini waktunya posting Wishful Wednesday, cerita buku-buku idaman di hari rabu. Namun kali ini kutahan dulu deretan judul buku yang masuk wishlist gegara main ke Gramedia itu ya. Sebab sebelum aku main ke Gramedia, sebuah alasan lain sudah mengingatkanku lebih dulu akan buku idaman lain yang sebetulnya sudah nangkring di book wishlistku sejak lama.

Bertemu Agustinus Wibowo. Itu adalah kali kedua aku mendengarnya berbicara. Pertama kalinya bertemu penulis buku memoar perjalanan di daerah konflik ini yaitu sewaktu mengikuti workshop penulisan memoar inspiratif di event Indonesian Reading Festival akhir 2014 lalu. Saat itu Mas AW hanya berbicara singkat saja, karena bukan pembicara di acara itu, hanya ditodong sharing on the spot. Lalu pada 22 Mei 2015 kemarin, Mas AW hadir di Salman ITB pada acara bedah buku Garis Batas.