Brainy Words

Amazon Promo

Sabtu, 24 Januari 2015

Kado Terindah dari Masa Depan & Masa Lalu

Kado Terindah dari Masa Depan & Masa Lalu (pic source: coreyotten.com)
Bagaimana rasanya jika kau mendapatkan sebuah hadiah yang berupa sesuatu yang kauidamkan? Happy, tentunya, dan excited... Akupun sempat mengalami hal itu. Senangnya bukan kepalang... Padahal sesuatu yang diidamkan tersebut bukan sesuatu yang besar ataupun mahal. Memang benar apa yang sering dibilang orang: bahagia itu sederhana. Kita bisa menabung kebahagiaan dengan hal-hal kecil namun bermakna. Suatu hal yang mungkin sepele untuk seseorang, belum tentu disepelekan oleh orang lainnya. Pemaknaan masing-masing yang membedakannya.

Sebuah pemberian kecil bisa berarti besar asalkan pemberian itu dapat menyentuh hati orang yang kita beri. Banyak alasan mengapa sebuah kado kecil bisa begitu berkesan buat si penerima. Mengenai ini, mengenang kado-kado apa saja yang pernah kuterima dari orang lain, tentunya banyak dan beragam ya. Bukan karena aku biasa merayakan banyak momen seperti ulang tahun & lain-lain. Justru kalau itu itungannya, aku malah jarang-jarang menerima kado seperti itu, meski Insya Allah kalau kado berupa ucapan & doa mah banyak :D. Dari sekian pemberian yang pernah kuterima, aku ingin berbagi cerita pengalamanku mendapatkan 2 diantara kado terindah yang berkesan buatku. Satunya kado dari seseorang di masa lalu, satunya lagi dari seseorang di masa depan...

Jumat, 23 Januari 2015

Kado Impian


Semenjak aku rajin ngikutin komunitas blogger, kalau dipikir-pikir lagi sudah banyak juga ya aku menulis tentang hal-hal yang menjadi impian pribadi. Jauh berbeda dengan dulu sebelum itu. Dulu-dulu aku jarang-jarang sharing tentang itu. Banyaknya GA bertema impian disinyalir menjadi salah satu faktornya. Plus kunjungan blog walking dari para kawan blogger yang berbaik hati meninggalkan jejaknya di kolom komentar & sering turut mendoakan dan mengaminkan, membuat aku senang juga menuliskan hal-hal impian. Meski barangkali sebagian di antaranya tampak dreamy banget untuk ukuran sekarang, toh aku gak begitu peduli. Menuliskan mimpi ternyata asyik, karena tak hanya gratis, tetapi juga diaminkan oleh orang lain. Belum menghitung kemungkinan bahwa semesta akan berkonspirasi untuk turut mewujudkan *Ngutip Paulo Coelho (lagi).
U9000 Android 4.2 3G Smartphone
Iya sih, impian muluk kalau gak dikejar juga susah untuk terwujud. But at least, kalaupun misalnya kita kebanyakan impian, sementara saat ini cuma sedang berada di suatu jalur impian, belum merambah usaha menuju impian lainnya, impian yang tertulis bakal menjadi semacam pengingat. Nanti seiring waktu, bisa dicicil tuh menunaikannya. Karena kadang, karena kesibukan, kita bisa saja melupakan impian kecil (atau besar) yang sebenarnya dari dulu kita inginkan. Nah, ngomongin impian, sekarang ini sih aku cuma mau berbagi tentang salah satu benda yang saat ini menjadi kado impianku. Kalau mau jujur sih, banyak juga benda duniawi yang lagi diinginkan banget buat dipunyai. Tapi untuk saat ini, kalau ditanya apa kado impianku, jawabannya adalah smartphone. Hehe... Hari gini gak punya smartphone, sakitnya tuh disini...

Senin, 19 Januari 2015

Menularkan Virus Baca dengan Cara Sederhana

Menularkan Virus Baca dengan Cara Sederhana

Buku adalah keajaiban
Aku adalah seorang yang mengaku cinta buku. Tak hanya suka membacanya saja, melainkan punya kesukaan pula untuk memiliki koleksi buku. Istilahnya, bibliophile. Dari manakah muasalnya kecintaanku akan bacaan ini, aku tak begitu yakin. Aku bukanlah orang yang sejak kecil dibacakan dongeng sebelum tidur, tidak pula dibelikan buku-buku cerita anak-anak. Di desaku, sepertinya belum banyak orang yang suka mengoleksi buku. Gak ada toko buku. Kalaupun ada, paling buku tulis, buku pelajaran, & buku-buku terbitan percetakan tak terkenal yang terbatas sekali stok dan ragamnya. Meski begitu, masa kecilku bukannya tak akrab dengan cerita. Konsumsi dongeng atau cerita biasanya kuperoleh lewat lisan, entah itu dari rumah, sekolah, TPA, atau dongeng dari radio. Kalau ditanya apa buku masa kecil yang paling berkesan, aku kurang tahu jawabannya. Seingatku, dulu aku tak punya buku anak sama sekali. Dongeng-dongeng HC Andersen, buku-buku Enyd Blyton, dan buku-buku klasik lainnya baru kukenal setelah aku dewasa dan tinggal merantau di kota. Buku pertama yang kubeli khusus nitip dari kota kabupaten adalah buku soal-soal persiapan EBTANAS SD & buku saku UUD 1945 :D.

Tak mengherankan jika aku sering bilang, aku adalah pembaca buku yang telat. Karena latar belakang itu pula, aku lebih sering tergoda hunting buku-buku lama & klasik dibandingkan buku baru. Meski tidak mengenal asyiknya buku-buku masa kecil, sejak kecil aku sudah merasa tertarik dan suka membaca. Ini dibuktikan dengan lahapnya aku membaca apa yang ada tersedia. Dulu alm. ibuku langganan tabloid Nova, maka aku kecilpun jadi pembaca setia Nova (yang notabene pasar pembacanya untuk ibu-ibu). Selain tabloid Nova, tak ada bacaan lain. Bapakku tak langganan koran apapun, sukanya baca kitab-kitab kuning saja :D.

Rabu, 14 Januari 2015

Berguru kepada Emak-emak KEB

Selamat ulang tahun yang ke-3, KEB... :)


Aku yakin, momen spesial buat komunitas Kumpulan Emak-emak Blogger yang menginjak usia ke-3 ini bakal tak hanya spesial, melainkan juga meriah. Ada pesta? Ada dong... Namanya komunitas blogger, pestanya pesta blogging :D. Terhitung dari tanggal 14-15 Januari 2015 ini para member KEB berpesta posting serentak buat memeriahkan HUT KEB ini. Tak cuma meriah secara online, secara offline juga bakal ada acara yang Insya Allah bakal seru. Sudah sejak beberapa waktu lalu timeline grup fb KEB sudah heboh saja dengan woro-woro #KEBSauyunan. Sebuah agenda kebersamaan KEB yang judulnya sunda banget, karena mengiringi event kopdar binti sillaturrahim yang kali ini bertempat di Bandung. Asyiik... ^_^. Nama acaranya pun khas emak-emak, yakni Arisan Ilmu. Tapi tentu saja ini arisan spesial, karena Insya Allah disini bakal ada sharing ilmu dari emak blogger yang sudah malang-melintang di dunia blogging.

Sementara KEB sudah berusia 3 tahun, aku baru gabung KEB dari sekira setahun lalu. Aku mengenal KEB dari blogwalking ke blognya entah siapa (lupa), yang jelas member KEB, karena aku lantas berkenalan dengan KEB dari banner KEB yang terpajang di blog tersebut. Berawal dari banner KEB tersebut, aku meluncur ke website KEB dan mencari tahu lebih lanjut tentang komunitas blog khusus perempuan ini. Nampaknya perkenalanku dengan komunitas KEB tak bisa dipisahkan dari perkenalanku dengan komunitas Warung Blogger. Aku mengenal keduanya pada waktu yang relatif berdekatan. Toh kuperhatikan pula kebanyakan member KEB adalah juga member WB. Kesan yang kutangkap pertama kali, KEB & WB seperti saudaraan ya...

Jumat, 09 Januari 2015

Madre: ibu Kehidupan

Madre: Kumpulan CeritaMadre: Kumpulan Cerita by Dee

My rating: 4 of 5 stars


Membaca Madre meninggalkan kesan yang mirip seperti membaca Filosofi Kopi dulu buatku. Madre, seperti Filosofi Kopi di mataku adalah karya-karya Dee yang menebar pesona tersendiri. Sama-sama filosofis, juga berbau kuliner, meski menurutku Madre ini setingkat lebih filosofis dibanding Filosofi Kopi. Dan kesan yang mirip lainnya adalah, keduanya sama-sama berupa kumpulan prosa karya Dee dari rentang beberapa tahun, dan dari beberapa karya itu hanya kisah berjudul Madre dan Filosofi Kopi sendiri yang tampak kemilau di antara yang lain. Aku jadi berandai-andai kalau Dee suatu hari nulis buku yang isinya berupa kumpulan cerpen yang mengambil tema benda-benda yang tampak sederhana namun digali sisi filosofisnya selayaknya biang roti dalam Madre ini.

Sinopsis (dikutip dari Goodreads):
“Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari?
Darah saya mendadak seperempatTionghoa,
Nenek saya seorang penjual roti, dan dia,
Bersama kakek yang tidak saya kenal,
Mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu: Madre.”

Terdiri dari 13 prosa dan karya fiksi, Madre merupakan kumpulan karya Dee selama lima tahun terakhir. Untaian kisah apik ini menyuguhkan berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno, dialog antara ibu dan janinnya, dilema antara cinta dan persahabatan, sampai tema seperti reinkarnasi dan kemerdekaan sejati.

Lewat sentilan dan sentuhan khas seorang Dee, Madre merupakan etalase bagi kematangannya sebagai salah satu penulis perempuan terbaik di Indonesia.

Senin, 05 Januari 2015

Resolusi Receh?

Sering orang memandang uang receh dengan sebelah mata. Mungkin karena jumlahnya kecil kali ya, suka dianggap sepele, meski sebenarnya itu mata uang juga yang berlaku. Sering lihat receh koin tergeletak di jalan, tapi tak ada yang heboh tuh kalau menemukan :D. Bahkan pengamen pun sekarang ini udah pasang tarif aja, "seribu, 2 ribu...". Aku bahkan punya pengalaman buruk (trauma), sekarang gak berani ngasih recehan kurang dari Rp.500, takut dianggap menghina. Padahal bagiku sendiri, yang suka naik angkutan umum, receh itu berharga. Siapa pun tahu, sesuatu yang sedikit, kalau dikumpulkan lama-lama bisa jadi bukit. Yah, tak perlu sampai jadi bukit receh juga, minimal yang terkumpul itu bisa jadi menyamai harga sesuatu yang dibutuhkan atau diinginkan.
Mengingat flashback beberapa tahun ke belakang, betapa menakjubkan ternyata apa yang dapat dilakukan oleh recehan. Masih ingat gerakan "koin untuk Prita?" Menakjubkan. Receh, kalau dikumpulkan bisa berguna buat tabungan pribadi dan untuk gerakan sosial. Justru karena tampak sepele, kelihatannya takkan memberatkan kalau kita sisihkan, kumpulkan tiap hari. Kalau sehari 100 perak saja kita kumpulkan, dalam setahun sudah dapat Rp.36.500. Akhir tahun bisa jajan bakso 2 mangkok :D, hehe... *Yaelah, masa' ngumpulin receh setahun cuma buat bakso. Kalau ngumpulinnya rajin & lebih banyak, lumayan buat beliin wishlist kek, atau buat donasi, atau terserah...

Sabtu, 03 Januari 2015

Emak Ingin Naik Haji: Cinta Hingga Tanah Suci

Mak
 ingin kubawa kau pada rumah mimpimu 
 yang dari dalamnya terpancar keindahan Ilahi 
dan berjuta tanda kebesaran-Nya 

Tapi Mak
 tanganku terlalu lemah dan daya yang kupunya
 seperti hembusan angin melintas celah batu karang 

Mak
rumah mimpimu
entah kapan kupersembahkan
tapi ia selalu ada dalam doaku
***


My rating: 3 of 5 stars


Membaca buku ini membuatku bernostalgia. Mengingatkanku saat dulu semasih SMA & kuliah senang banget baca fiksi-fiksi Islami yang saat itu sedang booming-boomingnya. Sudah lama tak membaca buku-buku Asma Nadia. Dan saya tetap suka. Cerpen-cerpen Asma Nadia di buku ini banyak mengangkat wacana realita sosial masyarakat, dibalut dengan tema cinta yang tak habis-habisnya mengalirkan guliran cerita. Cerpen-cerpen yang tersaji di buku ini menghadirkan kisah-kisah cinta yang menyentuh. Entah itu tentang cinta antara ibu-anak sebagaimana dalam cerpen "Emak Ingin Naik Haji", "Laki-laki yang Menyisir Rindu", dan "Bulan Kertas", tentang  cinta yang tak sampai sebagaimana dalam cerpen "Cinta Begitu Senja" dan "Sepotong Cinta dalam Diam", maupun cinta mendalam dalam rumah tangga & keluarga di cerpen-cerpen yang lainnya.